Kantong Kering? Ini Tips Jitu Kelola Stres

Magnet uang
Ilustrasi stres akibat masalah kebokéan.
0 Komentar

Masalahnya Bukan Kurang Tenang, Tapi Terlalu Terjebak

Banyak orang disuruh “tenang dulu baru bergerak”. Nasihat ini terdengar bijak, tapi sering keliru. Dalam kondisi tertekan, justru gerak kecil yang realistislah yang mampu menurunkan kecemasan.

Bukan mimpi bombastis, bukan janji perubahan drastis. Cukup satu tindakan kecil yang bisa diukur setiap hari. Masalahnya, sistem lebih gemar menjual harapan besar ketimbang mendukung langkah kecil yang nyata.

Istirahat Bukan Kemewahan

Aspek lain yang sering diabaikan adalah hak orang miskin untuk beristirahat. Mereka bukan hanya lelah bekerja, tetapi juga lelah merasa bersalah saat berhenti.

Baca Juga:Timnas Futsal Indonesia Gasak Korea Selatan 5-0, Pelatih Minta Ini untuk Laga SelanjutnyaTak Bisa Lagi Sembarangan, Kartu Perdana Kini Wajib Verifikasi Wajah

Padahal, kelelahan kronis merusak kemampuan mengambil keputusan. Menuntut produktivitas tanpa memberi ruang pemulihan sama saja dengan menuntut mesin rusak untuk terus berlari.

Tawakal yang Disalahpahami

Narasi religius pun tak luput dari distorsi. Tawakal sering direduksi menjadi kepasrahan manis tanpa usaha, seolah ketenangan batin bisa menggantikan kebutuhan riil.

Dalam pemahaman klasik, tawakal justru berarti bergerak maksimal, menerima hasil dengan jujur, dan tidak menghancurkan diri karena hal-hal di luar kendali. Ini bukan spiritualitas pelarian, melainkan keteguhan yang aktif.

Penutup: Ilusi yang Harus Dibongkar

Jujurnya, hampir mustahil tidak stres saat tidak punya uang. Yang mungkin adalah stres yang tidak melumpuhkan, cemas yang tidak berubah menjadi putus asa, dan takut yang tidak memusnahkan harga diri.

Manusia tidak rusak karena miskin. Manusia rusak ketika diyakinkan bahwa mereka tidak pantas hidup saat miskin. Keyakinan itu bukan hukum alam, bukan kehendak Tuhan, melainkan ilusi yang diproduksi oleh sistem.

Dan selama ilusi ini terus dipelihara, kemiskinan akan selalu disalahkan pada mental individu—bukan pada struktur yang seharusnya bertanggung jawab. (*)

(Penulis: Hasan Zaelani – Pemred Jabarpublisher.com)

0 Komentar