Karangwangun Raih Penghargaan Desa Cantik & Gagas Program “Kuwu Mengajar”

Karangwangun Raih Penghargaan Desa Cantik & Gagas Program "Kuwu Mengajar"
0 Komentar

Penghargaan ini diharapkan dapat memacu desa-desa lain di Kabupaten Cirebon agar lebih sadar terhadap pentingnya penggunaan data statistik dalam pembangunan. Desa Karangwangun menjadi contoh sukses bagaimana pemanfaatan statistik dapat mendukung pembangunan desa yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.

Penghargaan Desa Cinta Statistik ini adalah salah satu langkah positif dalam upaya Desa Karangwangun untuk terus meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya melalui perencanaan yang matang dan berbasis data.

Karangwangun Raih Penghargaan Desa Cantik & Gagas Program "Kuwu Mengajar"KUWU AMI MENGAJAR – Layaknya seorang guru, Kuwu Ami tampak luwes saat ‘mengajar’ di depan anak-anak.

Baca Juga:Sophi Zulfia Didaulat PDIP Jadi Ketua DPRD Kab CirebonBey Machmudin Sambut Kedatangan Perdana Scoot di BIJB Kertajati”

Setelah mendapat penghargaan Desa Cantik, Karangwangun menindaklanjutinya dengan kegiatan “Kuwu Mengajar” dan program-program lainnya. Kegiatan ini akan dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Kegiatan Kuwu Mengajar perdana dilaksanakan di SDN 1 Karangwangun, yang dipimpin oleh Kuwu Desa Karangwangun,  Taufik Islami, S.E, ini berlangsung cukup antusias. Program ini dilakukan di kelas V SDN 1 Karangwangun dengan jumlah siswa keseluruhan sebanyak kurang lebih 150 siswa. Kegiatan Kuwu mengajar tersebut lebih membahas topik-topik penting seperti keagamaan, budaya, teknologi, dan pengelolaan sampah, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa.

Dalam agenda tersebut, siswa diajak untuk memahami pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Mas Ami menjelaskan bagaimana pentingnya ajaran agama menjadi landasan moral yang kuat bagi generasi muda, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia juga menambahkan, topik tentang budaya juga menjadi sorotan yang tak kalah penting. Siswa diajak untuk mengenal dan melestarikan budaya lokal yang merupakan warisan pendahulu, namun tetap terbuka terhadap budaya global yang masuk melalui perkembangan teknologi.

Sesuai catatan data statistik, peserta yang sedang menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Dasar sejumlah 572 siswa atau 9,36% dari seluruh peserta didik yang ada di desa ini. Kuwu Ami lebih banyak menekan pembahasan teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan saat ini. Ia berharap agar siswa bisa cerdas dan bijaksana dalam memahami pemanfaatan teknologi secara positif untuk mendukung pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Terakhir, Kang Ami juga menyoroti perihal isu lingkungan, terutama terkait pengelolaan sampah yang menjadi perhatian dan problem utama di masyarakat. Melalui pembahasan ini, siswa juga diajarkan bagaimana pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik, mulai dari pemilahan sampah organik dan non-organik, hingga cara mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak digunakan.

0 Komentar