Dikutip dari berbagai artikel fakta menarik justru melekat pada generasi ini. Pada kenyataannya Generasi Z adalah golongan anak muda yang suka dengan pengalaman baru dan wawasan baru, Generasi Z berani mengungkapkan pendapat, mempunyai banyak akses informasi dan pertemanan dan pandai dalam bermedia sosial. Bahkan sebetulnya generasi ini lebih peduli terhadap isu-isu sosial yang terjadi dan masih banyak lagi.
Sebagai ilustrasi, fenomena yang terjadi di akhir-akhir ini anak-anak muda banyak terlibat dalam suksesi pemilu dengan mengikuti keanggotaan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Di moment Bimbingan Teknis (Bimtek) anggota KPPS, nampak peserta dari orang-orang tua yang termasuk dalam golongan ‘baby boomers’ terlihat khidmat dalam menyimak materi yang di sampaikan. Berbeda dengan Anak-anak muda generasi Z, yang sibuk dengan gadgetnya ada yang sibuk mencari materi Bimtek di internet, ada yang sibuk mencari materi dengan meminta kepada temannya sesama KPPS yang sudah melaksanakan Bimtek, ada pula yang asyik menonton video tutorial KPPS di YouTube dan lain sebagainya.
Anggota KPPS pada Pemilu 2024 juga didominasi oleh Generasi Z dan Milenial
Baca Juga:bank bjb Hadirkan Layanan Digital Contact Center 24 Jam untuk Nasabah SetiaRamai Komentar Soal Sulitnya Bikin KTP, Kapolresta Cirebon Turunkan Tim Saber Pungli
Tetapi dalam ilustrasi ini yang ingin disampaikan adalah, pertama generasi Z memiliki FOMO (Fear Of Missing Out) yang besar yaitu sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, trend, dan hal lainnya. Ini terbukti dengan banyaknya anggota KPPS dari kalangan Generasi Z. Kemudian yang kedua adalah Generasi Z banyak memiliki akses dalam memperoleh informasi hanya dengan gadgetnya. Yang ketiga adalah Generasi Z lebih menyukai belajar dengan cara yang simplistis.
Dari berbagai potensi Generasi Z yang dijelaskan di atas seakan membantah semua tudingan buruk terhadap Generasi Z ini. Justru pada faktanya yang sering kita lihat orang-orang yang mudah terprovokasi oleh media sosial adalah orang-orang tua generasi ‘baby boomers’, bahkan gaya kampanye narsis yang dipakai oleh tiap-tiap paslon itu banyak diikuti dari kalangan generasi sebelum Generasi Z. Yang ada malah penonton debat kandidat banyak didominasi oleh kalangan Generasi Z terbukti banyak event nonton bareng yang diadakan oleh anak-anak muda.
