BEKASI – Di Indonesia, berbagai peristiwa gagal panen akibat cuaca ekstrim semakin sering ditemukan. Salah satu kasus yang sangat mengkhawatirkan ketika kenaikkan suhu global, mengakibatkan kondisi cuaca yang tidak menentu. Petani harus rela kehilangan kesempatan panen hampir 50% dari yang seharusnya mereka panen tepat waktu. dikarenakan akibat hujan ekstrim, maka menjadi gagal dan terpuruk. Hal tersebut membuat Tokoh Petani Muda, Muhammad Fauzi, angkat bicara.
Dirinya menjelaskan, seharusnya masalah tersebut menjadi perhatian, dan tanggungjawab Pemerintah Pusat serta daerah untuk menangani permasalahan pangan Nasional, terutama permasalahan petani di daerah-daerah, jika visi dan misi Pemerintah mengedepankan ketahanan pangan.
“Pertama, berdasarkan riset impor beras Indonesia disebutkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor beras sebanyak 2 juta ton di akhir 2023. Menandakan bahwa persoalan Pangan Beras belum bisa teratasi dengan kemandirian secara utuh. Artinya pangan Nasional masih di intervensi pasar gelap dan liberalisasi pangan,” ujar Fauzi, Minggu (09/04/2023).
Baca Juga:Gub Jabar Beri Kadeudeuh Atlet SEA Games dan Para GamesSafari Ramadhan, Nyumarno Resmikan Sarana Olahraga di Perumahan Central Park
Selanjutnya, sambungnya, ada beberapa masalah yang sangat penting, yaitu permasalahan realisasi benih untuk Petani Bekasi terdampak banjir dan berikut janji Kementerian Pertanian, Yasin Limpo untuk mempercepat pemulihan lahan Pertanian Kabupaten Bekasi, khususnya yang terdampak banjir seperti mendatangkan pompa lebih banyak, bantuan benih dan percepatan penanganan pangan.
Adapun masalah yang harus diungkap, yaitu Kementerian Pertanian dan Pemkab Bekasi menjanjikan benih padi untuk 10.490 hektare sawah tidak terealisasi dengan nyata. Kemudian, janji memberikan benih padi pada tanggal 27- 28 maret 2023 untuk wilayah Kecamatan Cabangbungin dan Kecamatan Pebayuran tidak terealisasi. Terus, janji memberikan benih padi sebanyak 262 ton bibit untuk petani terdampak banjir tidak terealisasi.
Lalu, lanjut Fauzi, Pemkab Bekasi tidak memiliki data akurat para Petani. Bantuan benih untuk Petani terdampak banjir terindikasi penggelapan. Fungsi pengawasan dan pembinaan Pertanian Bekasi tidak berjalan efektif. Penanganan banjir untuk lahan Pertanian tidak cepat direspon oleh Pemkab Bekasi.
“Nyata, fakta kronologis di lapangan, pada tanggal 27 Februari sampai dengan 10 Maret 2023 terjadi banjir dan tergenang area persawahan di wilayah Kabupaten Bekasi, khususnya Kecamatan Cabangbungin, Sukakarya, Pebayuran, Sukawangi, Babelan,” paparnya.
