Kisah Inspiratif Monique, Penderita ‘Long-Tail Covid’

Kisah Inspiratif Monique, Penderita 'Long-Tail Covid'
0 Komentar

Tubuhnya gemetar saat mencoba merangkum bagaimana dia diperlakukan. Dia enggan mengkritik staf kesehatan yang telah memberikan perawatan terbaik, tetapi dia mengatakan bahwa sistem tidak berfungsi untuk orang-orang di posisinya. Hal itu terjadi sembilan minggu sebelum Monique bisa mendapatkan tes untuk virus corona. Selama waktu itu, dia takut menularkan virus ke orang lain. Nasihat pemerintah mengatakan untuk mengisolasi selama tujuh hari atau sampai gejala hilang – tetapi bagaimana jika mereka tidak pernah hilang? pikirnya. Teman-teman sekamarnya telah merancang sistem untuk menghindari kontak di dalam rumah – mereka masing-masing memiliki tempat di lemari es. Kemudian mereka akan pergi ke kamar untuk makan sendiri.

Suatu hari dia pergi mencari udara segar di taman dekat rumahnya dan seorang anak kecil berlari di dekatnya. Monique melompat untuk menjauh dari balita itu. Sang ibu sangat marah. “Anak itu tidak ada di dekatmu!” dia berkata. Monique mencoba menjelaskan, dia tidak takut tertular melainkan takut menularkan virus. Lalu, ibu itu menjawab “orang yang sakit harus tinggal di rumah”.

Monique berharap buku hariannya akan membantu orang untuk memahami bahwa tidak semua hal selalu sesederhana itu. Ketika beberapa teman berusaha keras untuk membantu, Monique menyadari bahwa terdapat orang lain yang merasa muak dan berpikir tidak masuk akal. “Seseorang mengatakan saya menjadi terobsesi dengan Covid,” katanya. Akhirnya, pemerintah Inggris membuka pengujian kepada siapa pun yang menunjukkan gejala. Dia sangat senang, tetapi ada kendala karena harus menggunakan mobil dan ia tidak memilikinya.

Baca Juga:Meski Pandemi, bank bjb Konsisten Jaga Tren Pertumbuhan PositifPas Hari Pahlawan, Habib Rizieq Tiba Di Indonesia

Lalu, seorang teman memberinya tumpangan. Monique tidak akan melupakan kebaikan temannya itu yang mempertaruhkan diri untuk menemaninya. Di tempat tes, ia mengaku ternyata tidak dilayani oleh perawat dan dokter malah oleh tentara. Hasilnya adalah negatif. Ia lega dengan hasil itu karena tidak akan menulari teman dan keluarganya, namun di sisi lain ia tidak merasa lega dan membaik. “Perasaan menular secara psikologis sangat sulit untuk dihilangkan,” tulisnya dalam buku hariannya.

Setelah empat bulan pertama kali merasa sakit, Monique memutuskan untuk pindah dari tempat tinggalnya di London Timur dan berada di sekitar keluarga yang dapat membantunya. Pada bulan Juli, napasnya membaik, bisa menaiki tangga dan mengatur nafas, Tetapi saat ia bersih-bersih kamar dengan alat pengisap debu, Monique jatuh pingsan karena sesak napas. Akibatnya, ia terbaring selama tiga minggu. Monique tidak tahu bagaimana kondisinya akan membaik. “Banyak orang mengatakan kepada saya, ‘Monique, Anda akan bersepeda lagi dan akan dapat bertinju dan dapat datang ke rumah saya ketika merasa lebih baik.’ Tapi bagi saya, itu semua tidak terlalu membantu. “

0 Komentar