Monique kembali bercerita, ia dan seorang temannya jatuh sakit setelah mereka melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Dua minggu pertama ia merasa sangat lemas – sangat lelah bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saat itu cuaca di London masih dingin, namun ia hampir tidak berpakaian dan menaruh sekantong es di kepalanya agar tetap dingin. Pada minggu kedua dia berjuang untuk bernapas. Ambulans datang tetapi mengatakan kadar oksigennya baik-baik saja. “Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya mengalami serangan panik, karena menunjukan gejala Covid.”
Monique tidak diuji tes Covid-19 saat itu karena, pada Maret, Inggris hanya memiliki sejumlah kecil alat tes yang digunakan untuk kasus mengancam nyawa. Monique kemudian mencoba merawat dirinya sendiri dengan pengobatan alami. Ketika memakan bawang putih dan cabai mentah, semua begitu aneh karena tidak ada rasanya. Dan, dia lelah. “Saya tidak punya tenaga untuk mengirim pesan kepada lebih dari dua orang setiap hari,” katanya.
Setelah dua minggu, beberapa gejala hilang tetapi muncul kembali gejala baru. “Saya merasakan cubitan di dada saya yang berubah menjadi seperti terbakar api,” katanya. “Rasanya seperti sakit gigi di sisi kiri. Saya pikir saya mengalami serangan jantung.” Monique segera menelepon layanan darurat Inggris dan disarankan untuk meminum parasetamol. Mereka mengatakan obat itu akan membuat rasa sakit hilang meskipun mereka tidak sepenuhnya mengerti mengapa bisa.
Baca Juga:Meski Pandemi, bank bjb Konsisten Jaga Tren Pertumbuhan PositifPas Hari Pahlawan, Habib Rizieq Tiba Di Indonesia
Parasetamol itu bekerja di tubuhnya. Setelah rasa sakit di dada mereda, ternyata perut dan tenggorokannya mulai terasa “terbakar api” ketika dia makan. Dokter mengira dia menderita maag. Saat itu belum diketahui bahwa masalah lambung merupakan salah satu gejala dari infeksi virus corona. Sekitar enam minggu kemudian, Monique mulai mengalami sensasi terbakar saat buang air kecil dan nyeri di punggung bawah. Dokter memberinya tiga kali obat antibiotik yang berbeda sebelum memutuskan bahwa penyakitnya bukan disebabkan infeksi bakteri.
“Itu hanya sebuah rasa sakit,” katanya. “Yang kemudian akan hilang begitu saja.”Di sisi lain, Monique memutuskan berhenti menggunakan media sosial karena takut dengan pemberitaan dan informasi yang membuatnya menjadi cemas dan mempengaruhi pernapasannya. Monique yang mengaku pecandu berita terpaksa menahan diri. Dia takut jika membuka media sosial akan melihat unggahan foto mayat dan bahaya virus corona.
