Mengenang Setahun Wafatnya BJ Habibie Lewat Kisah Masa Mudanya

Mengenang Setahun Wafatnya BJ Habibie Lewat Kisah Masa Mudanya
0 Komentar

Tidak banyak yang tahu masa muda Habibie. Dalam Buku ‘Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S Noer disebutkan masa muda Habibie.

Berikut kisah masa muda BJ Habibie:

  1. Hobi Baca Buku Belanda
    BJ Habibie sejak kecil kerap bertanya apa saja kepada papinya. Papinya akan menjawab pertanyaan Habibie dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Untuk menjawab keingintahuan anaknya, papinya, Alwi Abdul Jalil Habibie, membelikannya buku. Sehingga pada usia 4 tahun BJ Habibie sudah mahir membaca.

Karena itulah buku menjadi cinta pertama BJ Habibie. Dia membaca buku ensiklopedia hingga buku cerita. Buku karya kumpulan karya Leonardo Da Vinci dan cerita fiksi ilmiah karya Jules Verne adalah buku favoritnya. Nah, semua bukunya dalam bahasa Belanda dan punya kata sulit yang tidak bisa dipahami anak seumur Rudy. Dia pun bolak-balik bertanya tentang arti kata. Sehingga orangtuanya pun membelikannya kamus bahasa Belanda. Keluarga BJ Habibie juga berkomunikasi dengan bahasa Belanda.

  1. Dipanggil Rudy oleh Keluarganya
    BJ Habibie sejak kecil dipanggil Rudy oleh keluarganya. Dia dipanggil Habibie oleh guru ngajinya. Untuk mendalami agama, papinya semua anak-anaknya belajar mengaji kepada Hasan Alamudi, seorang guru ngaji di Parepare. Hasan Alamudi memanggil Rudy dengan nama Habibie.
  2. Joki Ulung
    Habibie adalah joki yang sangat ulung dan lincah yang mampu mengendalikan La Bolong atau si Hitam, kuda balap kelas satu. Di atas kuda, Habibie menjadi garang dan tangguh. Karena umurnya yang masih muda, papinya khawatir dengan cara Habibie mengendalikan kuda. Papinya pun menunjuk Teddy Boekoesoe untuk menjadi ko-pilotnya.

Namun ternyata, Habibie lebih pandai mengendalikan kuda dibanding Teddy. Teddy dilempar oleh La Bolong hingga terjungkal dan nyaris terjadi hal yang fatal. Papi pun membawa Teddy ke rumah sakit.

  1. Saling Melengkapi dengan Adik
    Kelakuan BJ Habibie berbeda 180 derajat dengan adiknya, Fanny, adik laki-lakinya yang berbeda umur setahun. Habibie dan Fanny bagai dua sisi mata uang. Dengan karakter yang bertolak belakang, mereka bisa melengkapi satu sama lain.
0 Komentar