JAKARTA – Presiden ke-3 RI BJ Habibie, tutup usia pada 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun. Hari ini, tepat setahun wafatnya pria kelahiran Parepare 25 Juni 1936 itu. Bagi Indonesia, BJ Habibie dikenal sebagai “Bapak Pesawat”. Gebrakan awalnya merancang proyek pesawat CN-235 bersama-sama dengan para insinyur dari perusahaan Spanyol, CASA yang prototipenya berhasil mengudara pada akhir 1983.
Sukses menuntaskan proyek CN-235 bersama CASA membuat Habibie dan timnya dari IPTN percaya diri bahwa mereka juga mampu merancang pesawat sendiri. Dirancanglah pesawat baling-baling dengan daya angkut sekitar 50 penumpang dan bisa diperbesar hingga 70 penumpang
Proyek ini kemudian dinamai N-250. Pada N-250 saat itu dipasang sistem kendali fly by wire. N-250 disebut jadi pesawat baling-baling pertama dengan sistem kendali canggih ini. Habibie pun mengirimkan ratusan anak buahnya untuk bersekolah dan magang di perusahaan-perusahaan pesawat terbang di luar negeri.
Baca Juga:Tingkat Keterisian Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di Jabar Capai 44,33 PersenPangdam III/Siliwangi: Jangan Mudah Terprovokasi Berita Hoax
Seminggu sebelum ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia, pada 10 Agustus 1995 pukul 09.40 WIB, Gatotkaca, nama yang diberikan Presiden Soeharto kepada N-250 terbang meninggalkan landasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Habibie juga dikenal dengan sosok yang memiliki IQ tinggi yakni 160. Pria beranak dua itu karirnya juga cemerlang. Dia mulai kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954.
Kemudian dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, Pada 1955-1965. Dia sempat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998 dan menjadi Wakil Presiden ke-7 sejak 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998.
Kisah cintanya dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie. Kisah cinta keduanya bermula dari bangku sekolah. Keduanya saling memperhatikan saat duduk di bangku SMA Kristen Dago Bandung, Jawa Barat.
Kemudian komunikasi terputus setelah Habibie melanjutkan kuliah dan bekerja di Jerman. Ainun tetap di Indonesia dan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. BJ Habibie lalu menikah dengan Ainun pada 12 Mei 1962 di Ranggamalela, Bandung.
Habibie dan Ainun dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Ainun meninggal terlebih dulu pada 22 Mei 2010 karena kanker leher rahim. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Makam keduanya pun berdampingan.
