BANDUNG BARAT – Jajaran Komisi V DPRD Jabar melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prov Jabar, Rabu (6/2/2020). Bahkan Wakil Ketua DPRD Jabar drh. H. Achmad Ru’yat, M.Si. juga turut hadir memimpin kunjungan Komisi V ke salah satu RS milik Pemprov Jabar tersebut.
DISKUSI – Rombongan Kunker Komisi V DPRD Jabar saat berdiskusi setibanya di RSJ.
Ada sejumlah bahasan yang didiskusikan Komisi V dengan Manajemen RSJ yang pada kunker tersebut didampingi langsung oleh Direktur Utama RSJ dr. Elly Marliyani SpKJ. MKM, Ketua Komite Medik dr. Yuyun Setiawan SpKJ dan Anggota Komite Medik dr. Lenny Irawati Y, SpWJ.
Baca Juga:Hadiri Pelantikan Pengurus KNPI Kecamatan di Karawang, Ini Pesan Mak SriLaka Depan Kantor Camat Gebang, Korban Meregang Nyawa
Dikonfirmasi JP usai kunker, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Ir. H. Abdul Hadi Wijaya, M.Sc. menyampaikan bahwa kunjungan mereka ke RSJ yakni untuk mempertanyakan bagaimana upaya RSJ Prov Jabar dalam menangani anak dan remaja yang kecanduan gadget (smart phone) serta adanya isu bahwa ada pasien yang ditolak di RS tersebut.
“Kunker kali ini kami mengecek pelayanan, bagaminana perkembangan terakhir di RSJ, karena dulu pernah ada isu bahwa ada pasien ditolak. Dan bagaimana RSJ menangani anak dan remaja yang kecanduan gadget,” ungkapnya. Setelah dikroscek, lanjut Kang Ahad, begitu Ia akrab disapa menjelaskan, bahwa kondisi terkini rumah sakit sudah sangat baik dan tidak terbukti bahwa di RS tersebut terjadi penolakan pasien seperti isu yang beredar.
“Ternyata laporan dari Ibu Dirut RSJ yakni Bu Elly melaporkan bahwa RSJ sudah 0 persen penolakan. Progresnya bagus, prosedur juga diperhatikan dengan baik. Kami juga meninjau ruang penanganan anak yang kecanduan gadget, jumlahnya ada belasan anak baik laki-laki maupun perempuan. Kami berbincang dengan mereka, kami peluk mereka. Adapun penanganan yang dilakukan oleh RSJ, dengan penanganan medis juga psikologis selama 2 sampai 3 minggu,” terangnya.
TEMA KEJIWAAN – Selain membahas masalah pelayanan, Kunker DPRD juga membahas penyakit kejiwaan baru yakni kecanduan gadget.
Dari kunker tersebut, para wakil rakyat juga akhirnya mengetahui salah satu keunikan yang dimiliki RSJ yakni adanya seorang dokter sub spesialis bidang Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja yang jumlahnya sangat langka. “RSJ prov Jabar memang memiliki satu dokter sub spesialis yang jumlahnya hanya 3 orang se-Jawa Barat. Para dokter disini bekerja sangat spartan dan sangat baik. Tapi masukan dari kami, RSJ juga perlu ada publikasi dan sosialisasi tentang penyakit baru yakni deteksi dini kecanduan gadget. Sehingga ‘penyakit’ baru anak dan remaja ini bisa dideteksi dan diantisipasi sejak dini,” tandas Abdul Hadi.
