Klaim lainnya bahwa Pihaknya juga mengusung “go grean” pada pembangunan PLTU II yang direncanakan akan menghasilkan daya 1000 megawatt itu.
“Intinya kami berupaya sebisa mungkin untuk meminimalkan emisi dan penggunaan batu bara yang belakangan ini menimbulkan pro kontra,” tuturnya.
Memang dalam data ENERGYWORLD bahwa PT Cirebon Energi Prasarana pernah meraih Asian Power Awards dan menobatkan PLTU Cirebon sebagai Coal Power Project of the Year tahun ini. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada ratusan pelaku industri energi terbaik di kawasan Asia.
Baca Juga:Pertamina akan Bangun Pabrik Senilai Rp 100 Triliun di IndramayuGiliran Ciamis Diterjang Puting Beliung, 28 Rumah Rusak
Kemajuan IPTEK memungkinkan pembangkit listrik menggunakan teknologi batu bara bersih. Sehingga, PLTU tidak lagi seperti dulu, teknologi subcritical mulai ditinggalkan dan PLTU telah beralih ke teknologi supercritical. Dengan teknologi supercritical, PLTU bisa beroperasi dengan lebih efisien. Less coal, less emission, benarkah ini?
Nah kini apakah dengan di cekalnya sang CEO Cirebon Power kekeliruan yang terjadi akan terbongkar? (red/dbs)
