Herman, begitu Ia akrab disapa menyampaikan juga bahwa dalam waktu dekat akan menggelar sebuah acara lintas agama yang berisi kegiatan budaya dan sejarah. “Tanggal 27 dan 28 September mendatang kami akan menggelar acara Midang Cirebon Timur yang juga mengundang para pihak terkait, dinas, para ulama, dan perwakilan lintas umat beragama,” pungkasnya. (jay)
Sejarah Klenteng Lok Pin Tong
Awalnya Klenteng merupakan rumah bagi tiga ajaran Budha, Konghutcu dan Taoisme. Hanya saja pada perjalanannya karena perustiwa politik bangsa yang berkembang dan mendapat pengakuan adalah Agama Budha dan Konghutcu, sedangkan Tao kurang begitu berkembang di Indonesia.
Pada masa selanjutnya di indonesia Klenteng menjelma menjadi “rumah adat” bagi orang Chinese di Indonesia.
Baca Juga:HUT Kab Kuningan ke 521, Wagub: Desa Ujung Tombak PembangunanIni Sepatu Keren “Sneakers” Ala Korea yang Recomended Banget
Nilai budaya leluhur dari ajaran Tri Darma di Cirebon Timur di bawa oleh Jenny Be Kiam Nio yang dilahirkan pada tahun 1893 yg merupakan putri keempat dari Be Kwat Koen dan The Siang Ling (1865-1934).
Dia juga adik perempuan ketiga dari Be Soen Nio. Orangtuanya merupakan tokoh Tionghoa yang dihormati di Jawa.
Be Kiam Nio menikah dengan Kwee Zwan Lwan (1893-1946) , anak tertua dan direktur pabrik gula Djatti Piring di Ciledug. Keluarga Kwee di Jawa Barat yang dekat dengan perbatasan Jawa Tengah , merupakan keturunan dari Kwee Giok San.
Kwee Giok San berasal dari Lungtzi , sebuah kota kecil dekat Zhangzhou (Fukien). Di tahun 1840 , Giok San menempuh perjalanan ke Nanyang dan di tahun 1850 tiba di Jawa Tengah dan menjadi pedagang di Ciledug, kawasan timur dari Cirebon.
Awal kehidupan Kwee Giok San penuh dengan kesulitan. Anak Giok San , yaitu Kwee Boen Pien dilantik menjadi kapitan di Ciledug. Anak Kwee Boen Pien, Kwee Keng Liem mendirikan pabrik gula Djatti Piring di tahun 1896 dan untuk empat dekade berikutnya keluarga Kwee berada dalam kemakmuran. (*)
REFERENSI Sejarah Klenteng seperti dikutip dari :
Post , P. 2009 , “ Java’s Capitan Cina and Javanese Royal Families Status , modernity and Power Major-titular Be Kwat Koen and Mangkunegoro VII”
