Terdapat beberapa kalangan akademisi yang ikut terlibat dalam proses seleksi, diantaranya SBM ITB dan Universitas Padjajaran. Nantinya, dari 1.076 ponpes akan dipilih 108 ponpes dengan produk terbaik pada seleksi tahap II. Kemudian, akan dipilih 10 ponpes dengan kategori produk terbaik tingkat provinsi.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat Kusmana Hartadji menyebut sebagian besar ponpes di Jabar belum mampu mandiri secara ekonomi untuk membiayai kebutuhan operasional maupun pengembangan sarana dan prasarana pesantren.
“Pa Gubernur, Pa Wagub juga hadir untuk memotivasi agar ekonomi umat meningkat,” kata Kusmana.
Baca Juga:Meriah! Teh Celli Tutup Turnamen Rengasdengklok Cup U35+Laka Tol Cipularang Libatkan 21 Kendaraan, 9 Tewas! Berikut Nama-nama Korbannya
Kusmana pun berharap, melalui OPOP, ponpes dapat memasarkan produknya secara regional, nasional, dan internasional. Maka itu, pihaknya akan melibatkan sekira 40 off-takers untuk berkolaborasi dalam program tersebut.
Sedangkan, perwakilan dari Ponpes Rizalihut Cendikia Bogor Asep Rahmat mengatakan, OPOP dapat mendorong kemandirian pesantren dengan efektif dan efisien. Menurut dia, produktivitas pesantren dalam kegiatan ekonomi akan meningka. Dengan begitu, operasional aktivitas belajar mengajar di Pesantren dapat dipenuhi secara mandiri.
“Pesantren kami jual oleh-oleh di Puncak Bogor, seperti makanan ringan dan lain sebagainya. Omzet saat ini mencapai sekira Rp 200juta dan kini terus meningkat,” kata Asep.
