Rata-rata para kuwu berkuasa selama belasan tahun, dipilih berdasarkan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab. Pemilihan kuwu sebelum Belanda berkuasa diserahkan kepada masyarakat dan mendapat restu Sultan.
Kotak suara pada masa pemilihan kuwu berupa bumbung bambu. Setiap pemilih mendapat sebuah koin atau biting kayu yang dimasukkan ke dalam bumbung kuwu yang mengikuti pemilihan.
Calon kuwu dibungkus dengan kain berwarna tertentu sebagai lambang kuwu pilihannya. Saat Belanda berkuasa penuh, harus mendapat restu Belanda.
Baca Juga:Begini Intinya, Kenapa Nusantara Kita Harus Pindah IbukotaIstri Sewa Empat Pembunuh Bayaran untuk Habisi Suami & Anak Tirinya, Lalu Dibakar
“Pada akhir abad 19 atau awal abad 20 kemungkinan kuwu mulai dipilih secara langsung, bebas, dan rahasia oleh masyarakat di kotak suara. Untuk kuwu yang sudah tidak menjabat disebut kuwu manten, berdasarkan kaidah bahasa Sunda,” kata dia. (red/dbs)
