Sementara kuli yang berada di Patok Besi menganggap adanya beko membuat pemasukan para kuli di wilayah ini berkurang drastis. Itu semua membuat para kuli yang ada di Patok Besi sepi pemasukan.
“Pendapatan yang tadinya dengan cara manual Rp200.000-Rp250.000 berkurang adanya alat berat. Jatah yang diberikan tidak cukup, karena hanya seminggu sekali. Kalau sehari-hari ada alat berat pendapatan hanya Rp70.000. Itu semua belum dipotong makan,” kata warga Surapandan yang juga mengadu nasib sebagai kuli.
Dia menuturkan, sudah dua minggu ini kembali bekerja sebagai kuli yang sebelumnya sempat berhenti karena sepi pendapatan. “Saya ketika adanya beko, libur memilih jadi laden bangunan. Karena adanya beko tidak sesuai pendapatanya, tidak nemu,” kata dia.
Dia berharap aktivitas alat berat ini disudahi sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Pemkot Cirebon. Karena selain memiliki daya rusak yang cepat, juga merugikan para kuli yang sudah menggantungkan hidupnya di pekerjaan ini.
Baca Juga:3 Minggu Pasca Audiensi, Dinas ESDM Belum Cek Sumur Bor Indofood Di EnderGantikan AKP Endang Sujana, AKP Yulyanto SH Jabat Kapolsek Pabuaran
“Karena kalau dipikir satu atau dua tahun galian C pakai alat berat ini bakal selesai. Terus kami mau kemana lagi, kalau semua lahan sudah digarap?” kata dia. (wisnu/jp)
