Alhasil, mereka kembali menjadi buruh di galian C ini. Karena menurut dia, masalah yang dihadapi para kuli ini berurusan dengan perut keluarganya, yang pada akhirnya mereka lebih memilih pekerjaan ini. Sekalipun bahaya mengancam ada di depan mereka.
Alih-alih pekerjaan, kata dia, sudah kerap dilakukan oleh para kuli. Namun demikian, mereka tidak bertahan lama yang pada akhirnya kembali menjadi kuli di galian C. Belum lagi, langkah mereka terhenti karena keterbatasan modal dan “sepi job” sebagai tukang bangunan.
“Saya ini sudah mencoba berulang kali untuk alih pekerjaan. Tetapi apa? Karena kebutuhan sehari-hari untuk keluarga yang kurang, akhirnya saya kembali menjadi kuli,” kata kepala kuli Cibogo, Syarif ketika berbincang dengan jabarpubliser.com.
Terlebih lagi, kata dia, saat ini adanya alat berat yang melakukan penataan tanah di wilayah Argasunya. Adanya beko, lanjut dia, membuat pemasukan warga ikut terbantu. “Sekarang ada beko, masyarakat bisa merasakan dampak. Ekonomi mereka ikut terbantu, yang tadinya menganggur sekarang bisa ikut bekerja. Apapun itu,” kata dia.
Baca Juga:3 Minggu Pasca Audiensi, Dinas ESDM Belum Cek Sumur Bor Indofood Di EnderGantikan AKP Endang Sujana, AKP Yulyanto SH Jabat Kapolsek Pabuaran
Diketahui, sejak tahun 2018-2019 ada aktivitas galian C dengan bantuan alat berat beko. Alat berat ini didatangkan untuk melakukan penataan yayasan yang berada di wilayah galian C perbatasan antara Cadas Ngampar, Cibogo, Sumur Loa dan Sumur Hoe.
Penataan yang dilakukan yayasan ini diiringi dengan aktivitas galian C. Jumlah beko yang didatangkan sebanyak delapan unit. Karena ada aktivitas itu, pihak kepolisian dari Polres Cirebon melakukan razia. Itu semua karena Pemkot Cirebon telah mengeluarkan peraturan.
Beko Vs Manual
Seiring waktu berjalan aktivitas galian C menggunakan alat berat sudah berhenti operasi di wilayah ini. Berdasarkan penyisiran di wilayah galian C, masih terdapat beberapa eskavator. Eskavator yang ada di galian C ini terlihat tidak melakukan operasi.
Berdasarkan pengakuan Syarif, terhentinya aktivitas alat berat ini karena beberapa waktu lalu pihak kepolisian melakukan razia. “Semua sudah berhenti, tidak ada aktivitas lagi. Sudah hampir 1 bulan,” kata dia.
Pro dan kontra adanya beko ini, lanjut dia, seharusnya disudahi. Karena dengan adanya beko semua pihak termasuk kuli mendapatkan “jatah” mingguan. “Bagi para kuli kan sudah mendapatkan jatah giliran perminggu. Misal minggu ini kuli di wilayah Cibogo, besoknya Patok Begi. Seterusnya seperti itu, bergilir. Jadi apa yang dirugikan,” kata dia.
