Sikapi Kasus Hukum, Direktur RSUD Waled: Kalau Begini Terus, Januari Saya Resign

Sikapi Kasus Hukum, Direktur RSUD Waled: Kalau Begini Terus, Januari Saya Resign
0 Komentar

Budi menjelaskan, terkait pengadaan server, RSUD Waled juga berkoordinasi dengan Diskominfo Kab Cirebon sebagai stakeholder terkait. “(Server), Bukan kita yang tentukan. Kita koordinasi dengan Diskominfo, karena saya gak ngerti. Akhirnya kan Pak Asep keluar, padahal kan perlu, kami sangat merasa terbantu, karena apa, dia banyak link nya untuk mendapatkan proyek-proyek pembangunan ini,” terang Direktur RSUD asal Bandung itu.

Terkait penyelidikan aparat penegak hukum, Ia mengakui hal itu cukup mengganggu institusi yang dipimpinnya tersebut. “Saya jadi merasa terganggu, kegiatan jadi terpecah. Anak buah saya tidak nyaman, karena pemanggilan,” keluhnya.

Sementara soal anti petir yang dikabarkan menghabiskan anggaran Rp 198 juta, Budi memaparkan, bahwa yang membuat mahal adalah ongkos pemasangannya. “Anti petirnya murah, buat ongkos masangnya yang mahal. Masa sih orang IT nya gak kita bayar,” jawabnya.

Baca Juga:Atalia Harap DWP Jabar Menjadi Benteng bagi Suami ASNRidwan Kamil Lantik Bupati Subang dan Majalengka

Dia akhir wawancara, Budi menjelaskan progres pembangunan dan rencana pengembangan RSUD Waled salah satunya pengembangan di bagian belakang RS. “Anggaran sudah cair, baru hari ini, dari Banprov (Bantuan Provinsi). Itu untuk pengembangan di belakang tahun 2019,” ujarnya.

Ia juga menginginkan yang mengerjakannya nanti adalah tangan-tangan profesional. “Saya ingin yang mengerjakannya nanti yang profesional, yang biasa bikin RS tingkat tinggi, yang sudah biasa bikin ICU, saya gak mau yang abal-abal, saya gak mau (kasus) RS Arjawinangun berulang. Sayang, biaya ratusan miliar cuma kaya gitu. Sedangkan kita, cuma 23 miliar bisa lanjut 4 lantai,” ulasnya.

Orang nomor satu di RSUD Waled ini juga meminta agar hal-hal yang sifatnya membuang waktu, seperti adanya surat kaleng, tidak usah ditanggapi. Bahkan, jika penelisikan kasus terus berlanjut, direktur juga mengultimatum akan resign pada Januari 2019 mendatang. “Kemarin saya sudah bilang, kalau ini dilanjutkan terus, saya Januari resign. ‘Loh kenapa dok?’ Ngapain, saya bekerja untuk masyarakat, kalau hasilnya seperti ini terus. Kalau ada surat kaleng, tolonglah gak usah ditanggapi. Banyak waktu yang terbuang sia-sia seperti ini. Saya ingin RSUD Waled bisa seperti RS Hasan Sadikin yang jadi RS rujukan kanker, rujukan mata, dan lainnya. Saya malu, kok kesannya di internalnya sendiri seperti ini,” pungkas Direktur RSUD Waled.

0 Komentar