Kyai muda ini juga bercerita, kenapa menamai Ponpes tersebut dengan nama Al-Shohwah. Alasannya karena, konon pada jaman dulu, di Desa Dompyong Kulon Blok Campedak ini adalah Hutan Larangan. Yakni sebuah kawasan yang dihuni banyak makhluk ghaib, dimana tak seorangpun yang berani datang. Hingga datanglah seorang Kyai bernama KH. Ashari (sesepuh Ponpes Kempek) yang bisa menaklukan hutan itu. Kemudian dibuatlah pesantren pertama di Desa ini. Tapi tidak bertahan lama tutup, lalu muncul lagi pesantren yang sama, berulang-ulang sampai akhirnya berdirilah Al-Showah yang pendirinya merupakan generasi ke 4 dari keturunan KH. Ashari.
Selang 2 tahun, tepatnya pada 2002, pemuda setempat mengusulkan agar Al Shohwah dibuat gedung permanen. Kabar gembira itu merupakan buah kebaikan Makdor yang dikenal dekat dengan masyarakat khususnya para pemuda setempat. Gedung pertama berhasil dibangun dari partisipasi pemuda dan masyarakat. “Warga bergotong royong membuat batu bata sebanyak 25 ribu buah, lalu beli batu kali sebanyak 3 truk dan juga kayu. Pembangunan gedung ini tidak langsung jadi, karena keterbatasan dana. Tapi Alhamdulillah, selalu saja ada jalannya. Pada saat membutuhkan material, ada rekan yang punya toko material. Dia adalah rekan yang saya kenal saat melaksanakan ibadah haji. Singkatnya, akhirnya saya dapat pinjaman dari toko tersebut berupa material. Saya membayarnya dengan cara dicicil,” ujarnya.
Tahun 2018 ini, Ponpes Al Shohwah sudah memiliki ratusan murid juga santri dari berbagai daerah di Indonesia. Terhitung ada 15 kelas dengan 34 guru (pengajar), terdiri dari RA, MTS, MA, TPQ, dan DTA. “Capaian ini hampir semuanya berkat partisipasi dari masyarakat. Dan kalau dihitung biayanya habis berapa, saya lupa. Karena pembangunanya sendiri bertahap, intinya kalau ada dana kita bangun,” tandas Makdor.
Baca Juga:Gubernur Ridwan Kamil Dampingi Presiden Jokowi Peringati Hari Disabilitas InternasionalTol Cigatas Mulai Ditender Awal Tahun 2019Â
Ia memaparkan, tanah warisan dari keluarga yang sudah jadi bangunan kini sudah diwakafkan seluruhnya atas nama Yayasan Al Shohwah. Dan masih ada lahan kosong seluas 5.000 meter persegi untuk pengembangan ponpes. Lokasinya tepat dibelakang Ponpes Al Shohwah. “Insya Allah nunggu terkumpul dana sedikit demi sedikit akan kita bangun lagi,” harap Makdor.
