Penuh Perjuangan, Begini Sejarah Ponpes Al-Shohwah Di Desa Dompyong – Cirebon

Penuh Perjuangan, Begini Sejarah Ponpes Al-Shohwah Di Desa Dompyong - Cirebon
TAMPAK DEPAN - Begini suasana Ponpes Alshohwah tampak dari depan.
0 Komentar

Perjuangan Makdor di dunia pendidikan agama kala itu boleh dibilang sangat pedih, bahkan untuk membuat papan tulis saja sampai patungan. “Saat itu, untuk beli triplek saja tidak mampu, akhirnya kami meminta Rp 500 ke anak-anak untuk patungan. Waktu itu sangat berat, jadi solusinya tembok kelas sebagian dicat hitam sebagai ganti papan tulis. Dan itupun untuk beli kapur tulisnya saya juga bingung, karna tidak punya cukup uang. Akhirnya, saya meminta tolong ke anak-anak yang sekolah SD. Saya bilang ke mereka ‘Kalau ada kapur bekas yang sudah dibuang oleh guru, bawa ke sini. Lumayan buat nulis di tembok nanti pas kalian belajar ngaji’. Dan benar saja, pas anak-anak pulang sekolah Alhamdulillah mereka bawa kapur bekas itu. Mereka bilang: Nih pak haji kapurnya,” kenang Makdor sambil tak henti meneteskan air mata.

Seiring berjalannya waktu, murid Makdor semakin banyak dan kekurangan tempat, hingga memakai rumah saudaranya yang berada di depan rumahnya (tempat Ia mengajar ngaji). Kemudian Makdor meminta ijin membuka RA, TPQ, dan DTA dengan memasang plang. Setelah itu, muridnya makin banyak. Bahkan ada juga yang menginap, khususnya yang berasal dari luar daerah. Sejak itulah dibuka pesantren bernama “Al-Shohwah” yang berarti “Bangkit”. Lagi-lagi, nama ini pun sempat disoal oleh sebagian warga pasca dibukanya ponpes tersebut.

Dengan penuh kesabaran, KH. Makdor kemudian berinisiatif mengumpulkan warga sekitar dan menyerahkan sekolah serta pesantrennya kepada siapa saja yang mau menjadi pemimpin atau pengelolanya. Saat bermusyawarah, ada salah satu sesepuh yang mengatakan bahwa yang paling pas untuk mengelola adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. “Pondok Pesantren dan sekolah itu adalah punya Makdor. Jadi, mau dia namain apa, mau dibikin apa, terserah dia, karena dia yang mendirikannya,” kutip Makdor menirukan ucapan sesepuh itu. Ketok palu, akhirnya Makdor tetap melanjutkan perjuangannya membesarkan ponpes Al-Shohwah yang dirintisnya.

0 Komentar