MoU, Jabar akan Miliki Badan Ekonomi Kreatif Daerah

MoU, Jabar akan Miliki Badan Ekonomi Kreatif Daerah
0 Komentar

Dalam masa transisi lingkungan, sosial, demografis, dan urban, ekonomi kreatif menjadi jembatan komunikasi dan pemahaman antara Negara dan budaya dengan menghubungkan ekosistem perkotaan, metropolitan, dan pedesaan.

“Ekonomi Kreatif, akan menjadi masa depan ekonomi global,” katanya.

Maka dalam perkembangannya saat ini, ekonomi kreatif saat ini membutuhkan sinergi dan pembagian tugas secara berjenjang di antara tingkat pemerintahan sesuai kewenangan masing-masing, yang kemudian didukung oleh Perguruan Tinggi, dunia usaha dan media massa sebagai perwujudan konsepsi pentahelix.

Sementara Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi mengungkap, bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat bagi komunitas global untuk mengangkat dan mendiskusikan peluang serta tantangan ekonomi kreatif dengan serius.

Baca Juga:ARAK Dorong KPK Usut Tuntas Pejabat Yang Terlibat Dugaan Jual Beli JabatanAyo Datang! Kecanggihan Museum Gedung Sate Bakal Bikin Anda Terpukau

Maka Pemerintah Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menginisiasi sebuah konferensi level internasional bertajuk “World Conference on Creative Economy” (WCCE) yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 8 November 2018 di Bali, Indonesia.

Pergelaran pertama WCCE ini akan melibatkan beragam pihak yang terdiri dari unsur pemerintahan, sektor swasta, think-tanks, masyarakat umum, organisasi internasional, serta media dan para ahli dari seluruh penjuru dunia serta para pelaku ekonomi kreatif dari 40 negara. Selain itu, organisasi internasional seperti WIPO, ITC, UNESCO, dan lainnya juga telah mengkonfirmasi kehadiran mereka dalam Konferensi ini.

WCCE merupakan sebuah konferensi yang akan membahas isu-isu dan tantangan ekonomi kreatif. Indonesia bersama warga dunia akan mendiskusikan strategi, cara, dan sarana baru untuk lebih mendorong perkembangan ekonomi kreatif melalui tema “Inclusively Creative”.

“Kreatif secara inklusif harus memberikan peluang kepada semua orang. Di era globalisasi saat ini, ekonomi kreatif benar-benar harus bisa diakses oleh siapa pun dan di mana pun,” ungkap Retno.

Pun perkembangan subsektor industri kreatif, didasarkan pada kombinasi teknologi, inovasi, media, seni, dan budaya. Di bawah tema “Inclusively Creative”, konferensi ini akan membahas empat isu utama, yaitu kohesi social, regulasi/peraturan, pemasaran, ekosistem dan pembiayaan.

Industri di ekonomi kreatif sendiri terbuka untuk pelaku dari berbagai umur dan latar belakang, sehingga menghasilkan kontribusi yang signifikan terhadap lapangan kerja dan karir generasi muda.

0 Komentar