18 Bulan Selesai, Iriawan Canangkan Pembangunan TPPAS Regional Lulut-Nambo

18 Bulan Selesai, Iriawan Canangkan Pembangunan TPPAS Regional Lulut-Nambo
0 Komentar

Pembangunan instalasi pengolahan sampah ini dilakukan melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dengan badan usaha pemenang lelang, yaitu PT Jabar Bersih Lestari (JBL). Pemilihan mitra kerja sama ini dilakukan secara transparan dan akuntabel, sehingga diperoleh badan usaha yang benar-benar mampu secara finansial, mempunyai kompetensi teknis dan teknologi handal, serta aman bagi lingkungan.

Pengolahan sampah akan mengadopsi teknologi mechanical biological treatment (MBT). Dimana sampah diolah untuk menghasilkan bahan bakar alternatif pengganti batu bara atau lazim disebut refuse derived fuel (RDF) yang digunakan oleh industri semen. Apabila proses pembangunan berjalan lancar, TPPAS Regional Lulut-Nambo dapat dioperasikan secara penuh pada pertengahan 2020.

Direktur Utama PT Jabar Bersih Lestari Mr. Do Yun Yu mengatakan, apabila TPPAS ini berhasil beroperasi akan menjadi proyek RDF pertama di Indonesia. Karena RDF merupakan bahan bakar ramah lingkungan berupa batu bara hijau.

Baca Juga:Warga Babakan Cirebon Geger Penangkapan Teroris Tadi SoreGubernur dan Wagub Jabar Dilantik 5 September 2018

“Ini akan menjadi proyek RDF pertama di Indonesia dan diharapkan akan menjadi model yang baik bagi pengelolaan limbah di Indonesia, serta negara-negara lain di Asia Tenggara,” harap Do Yun Yu.

Sebagai Perwakilan dari PT JBL, Do Yun Yu berjanji akan membuat proyek sampah ini berhasil. “Saya berjanji akan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan proyek berhasil dilaksanakan dengan ramah lingkungan, higienis, dan selaras dengan masyarakat,” ujar Do Yun Yu dalam sambutannya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Kristian Kartawijaya menyambut baik proyek TPPAS ini. Menurutnya, proyek sampah Lulut-Nambo memiliki nilai strategis karena dari sampah rumah tangga bisa menjadi sumber energi. Ini adalah sejarah baru bagi Indonesia.

“Sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari, bahwa plastik adalah masalah yang memusingkan. Tapi dengan teknologi ini plastik pun bisa kita makan. Jadi plastik-plastik yang ditakuti oleh negara ini bisa menjadi sumber bahan bakar,” ungkap Kristian.

Selain itu, lanjut Kristian, hasil pengolahan sampahnya yaitu RDF yang bisa mengurangi karbon dari industri semen. Dia pun berujar proyek ini diharapkan bisa menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah bagi daerah lain di Indonesia.

0 Komentar