“Kita harus berkomitmen untuk memelihara nilai air. Di sempadan sungai juga dilarang membangun apapun kalaupun ada jangan membuang apapun dan rumah harus menghadap ke sungai jangan membelakangi,” ujarnya.
Sebab menurutnya, bila rumah dibangun dengan menghadap sungai maka sungai akan menjadi tamannya. Sebaliknya bila membelakangi maka sungai akan menjadi tempat pembuangan.
“Dengan cara ini dan berkomitmen memelihara debit air secara kuantitas dan kualitas maka Insya Allah kita akan tetap memiliki air bersih bagi kehidupan kita,” ucapnya.
Baca Juga:Camat Karangsembung Kondisikan Kuwu-kuwu Untuk Dukung Salah Satu CalonPemkab Karawang “Curhat” Soal Uang Peliputan, Begini Kata Dewan Pers
Langkah Pemprov Jabar selama ini terus melakukan penghijauan di hulu sungai, memperbaiki cekdam bersama Kementerian PUPera, memelihara embung-embung, memlihara DAS dan menormalisasi sungai.
“Tentu ini perlu usaha bersama secara serentak. Sekarang kita bersyukur ada Perpres tentang pengendalian citarum, dengan Perpres ini yang asalnya bersama-sama bekerja tapi belum bekerja sama, sekarang sudah bersama-sama bekerja dan bekerja sama. Insya Allah akan terintegrasi dari pusat sampai daerah, mudah-mudahan kedepan dengan pengendalian ini citarum akan kembali harum dan airnya jernih lagi,” ungkapnya.
Dalam peringatan hari air dunia yang bertemakan “Nature for Water” ini, Gubernur Aher berkesempatan melakukan penebaran 500 ribu benih ikan nilem, emas, sepat dan ikan tawes di Situ Abidin serta penanaman 500 pohon. Dalam peringatan tersebut juga telah dipilih 8 orang duta air Jabar.
Menurut Wakil Bupati Bekasi Eka Supriatmadja, peringatan hari air dunia ke 26 tingkat Jabar ini sangat tepat diadakan di Situ Abidin karena kawasan ini selain sebagai tempat penampung air dan konservasi air tanah juga berfungsi untuk pengendalian banjir dan juga dicanangkan menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bekasi. (rls/hms)
