Gerakan Bersama Citarum Harum, Juga Libatkan Para Ulama

Gerakan Bersama Citarum Harum, Juga Libatkan Para Ulama
0 Komentar

Rencananya gerakan ini akan dicanangkan oleh Presiden Jokowi di Situ Cisanti (Km. 0 Citarum) awal Februari 2018. Gerakan Citarum Harum akan melibatkan semua komponen bangsa dan negara, khsusnya semua pihak yang ada di Jawa Barat. “Insyaallah, untuk Gerakan Citarum Harum semua komponen bergerak. Makanya saya dan kita semua harus optimis gerakan ini akan berhasil, apalagi ini sudah menjadi agenda kepresidenan,” ungkap Aher.

Pendekatan Hablum Minal Alam untuk Revitalisasi Citarum juga didengungkan oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo pada acara sosialisasi ini. Pendekatan ini, kata Doni harus dilakukan karena kondisi Citarum sangat memperihatinkan. Persoalannya ada di hulu hingga hilir Sungai Citarum.

“Sebagai hamba Allah kita itu diwajibkan untuk menjaga hubungan kita kepada Allah SWT (Hablum Minallah). Dan kita juga diwajibkan untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Tetapi ada satu hal dimana kita juga harus menjaga hubungan kita dengan alam semesta (Hablum Minal Alam),” ujar Doni.

Baca Juga:Puluhan Anggota PAB-BoSS Serbu Kantor PMI Kota BandungMTQ VI KBB, Dibuka Sekda Bandung Barat, Maman S. Sunjaya

Lebih lanjut, Doni mengatakan di kawasan hutan atau hulu Citarum pohon-pohon hampir habis ditebang. Kawasan kritis dan sangat kritis telah mencapai 80 ribu hektar. Tahun 2009 Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian PUPR mencatat mata air di hulu Citarum ada 300 buah, namun pada 2015 tinggal 144 buah.

“Kalau mata air tidak kita urus, maka dikemudian hari yang ada tinggal air mata,” ucap Doni.

Hulu DAS Citarum mengalami rusak parah. Menurut Data Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian PUPR, normalnya rata-rata debit air mencapai 41 meter kubik per detik. Namun saat ini, pada musim hujan mencapai 578 meter kubik per detik. Inilah yang menyebabkan banjir di Majalaya, Banjaran, dan Dayeuh Kolot. Sementara pada musim kemarau debit air mencapai 2,7 meter kubik per detik, sehingga menyebabkan kekeringan, gagal panen, dan PLTA Saguling kekurangan pasokan air. Selain itu, potensi panas bumi juga terganggu, seperti tenaga panas bumi di Kamojang 200 MW, Wayang Windu 227 MW, dan Patuha 60 MW.

Di hilir Citarum, sampah organik dan anorganik mencapai 20.462 ton per hari dan 71% diantaranya tidak terangkut. Limbah medis juga memenuhi Citarum, seperti kantong darah HIV/Aids, potongan tubuh manusia, dan alat medis bekas pakai (Data BBWS, 8 Januari 2018). Di sekitar Citarum ada 1.900 industri penghasil limbah, 90% Ipal belum selesai, dan 340.000 ton per hari limbah cair (Data DLH Jabar, 14 Januari 2018).

0 Komentar