Gerakan Bersama Citarum Harum, Juga Libatkan Para Ulama

Gerakan Bersama Citarum Harum, Juga Libatkan Para Ulama
0 Komentar

“Ini (Sosial-Budaya) persoalan kita. Kalau kemudian masyarakat kita sepakat untuk tidak buang apapun (ke sungai), maka sungai kita akan berubah menjadi sungai yang bersih,” tutur Aher dalam sosialisasi tersebut.

Penanganan kerusakan Citarum sebenarnya sudah dilakukan Pemprov Jawa Barat dengan berbagai pihak sejak 2001. Ketika itu ada program Citarum Bergetar. Program ini hanya melibatkan sebagian pihak, sehingga belum secara terintegrasi dan belum menjadi gerakan bersama.

Pada 2010 dibuat program Cita Citarum. Melalui program ini Pemerintah dan masyarakat bekerja bersama demi terciptanya sungai yang bersih, sehat, dan produktif, serta bisa membawa manfaat berkesinambungan bagi seluruh masyarakat di wilayah Sungai Citarum. Penanganan terpadu ini rencananya berlangsung dari 2010-2025. Lagi-lagi, koordinasi menyebabkan program ini belum optimal karena semua pihak belum bekerja bersama-sama.

Baca Juga:Puluhan Anggota PAB-BoSS Serbu Kantor PMI Kota BandungMTQ VI KBB, Dibuka Sekda Bandung Barat, Maman S. Sunjaya

Pada 2013 hingga 2015, dicanangkan kembali Gerakan Citarum Bestari. Program ini berhasil mengurangi sampah secara signifikan di Sungai Citarum, namun belum mengembalikan air Sungai Citarum seperti di hulunya Cisanti. Dari aspek Sosial-Budaya, Citarum Bestari berhasil menciptakan masyarakat berbudaya lingkungan atau Eco Village di sekitar DAS Citarum.

Upaya dan strategi yang dilakukan melalui Gerakan Citarum Bestari, yaitu:

1.    Integrasi dan sinergi penataan ruang dan pengelolaan DAS Citarum terpadu,

2.    Pembangunan ekonomi perdesaan dan pemberdayaan ekonomi rakyat,

3.    Penguatan kelembagaan dan percepatan perubahan perilaku stakeholder,

4.    Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan,

5.    Konservasi dan rehabiltasi hutan/lahan, serta adopsi teknologi pertanian ramah lingkungan,

6.    Pengurangan daya rusak air, penataan permukiman, dan penanganan bencana, serta

7.    Penaatan hukum lingkungan secara konsisten dan tidak pandang bulu.

Melalui gerakan baru Citarum Harum, Aher menaruh harapan besar kepada para ulama. Kata Aher, masa depan Citarum ada di tangan para ulama. “Saya mempunyai harapan besar kepada para ulama. Kalau para kiai atau ulama mengungkapkan hadist-hadist tentang lingkungan dan kebersihan air, pelestarian lingkungan di sekolah masing-masing, di majelis ta’lim masing-masing, di madrasahnya masing-masing. In Shaa Allah umatnya akan mendengar,” harap Aher.

“Oleh karena itu, peran yang sangat penting mengubah kultur masyarakat untuk menjadi kultur yang bersih, tidak mengotori air. Itu semua bisa dibuat kulturnya oleh para Ulama Jawa Barat. Insyaallah,” lanjutnya.

0 Komentar