Klinik Berperan Perluas Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Klinik Berperan Perluas Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat
0 Komentar

“Ini penyakit-penyakit gaya hidup semua itu,” kata Demiz di hapadapan parat tenaga medis, tamu undangan, serta masyarakat yang hadir dalam peresmian klinik tersebut.

Hal ketiga yang mempengaruhi tingkat derajat kesehatan manusia, yaitu Sarana Kesehatan yang mempengaruhi 20%. Dan keempat, hal-hal lain yang bersifat genetik lainnya mempengaruhi 5% tingkat derajat kesehatan manusia.

Untuk itu, Wagub menilai kehadiran klinik juga penting sebagai kunci utama pembangunan kesehatan dari aspek kuratif serta untuk mendukung sistem rujukan secara berjenjang, sehingga dapat mengurangi jumlah pasien ke RSUD.

Baca Juga:Jabar Lautan Kopi 2017, Rekor Dunia Brewing Coffee PecahJelang Natal dan Tahun Baru, Harga Sembako di Pasar Tambun dan Cikarang Normal

“Oleh sebab itu, hadirnya Klinik ini diharapkan tidak hanya memberikan pengobatan kepada mereka yang sakit (kuratif), tetapi juga dapat menjadi ujung tombak kampanye perilaku hidup sehat kepada masyarakat (Preventif dan Promotif),” pungkas Wagub.

Hal ini juga sejalan dengan upaya Pemerintah melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Tujuannya untuk mengurangi kesakitan masyarakat akibat penyakit menular dan juga penyakit tidak menular.

Jumlah Fasilitas Sarana Kesehatan di Provinsi Jawa Barat yang terlaporkan kurang lebih sebanyak 33.702 Unit, termasuk di dalamnya rumah sakit sebanyak 277 unit. Namun demikian, sebaran rumah sakit di Jawa Barat masih belum merata, sehingga ada daerah yang memiliki lebih dari 30 rumah sakit, tetapi ada juga yang hanya memiliki 1 atau 2 rumah sakit.

Selain itu, Jawa Barat juga masih membutuhkan tambahan sekitar 13.334 tempat tidur, untuk memenuhi standar WHO tentang ketersedian tempat tidur pelayanan kesehatan, yaitu 1 (satu) tempat tidur dipersiapkan untuk 1.000 penduduk.

Ada beberapa indikator kesehatan yang membutuhkan perhatian ekstra dari seluruh stakeholders kesehatan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Indramayu. Pertama, angka kematian ibu. Dalam kurun waktu tahun 2011-2016 trend kematian ibu di Jawa Barat cenderung fluktuatif, yaitu dari 850 kasus pada tahun 2011, turun menjadi 748 kasus pada tahun 2014, kemudian naik lagi menjadi 797 kasus pada tahun 2016.

Dilihat dari sebarannya, ada 7 (tujuh) Kabupaten dengan jumlah kematian ibu tertinggi dan ketujuh daerah ini berkontribusi hingga 50% terhadap angka kematian ibu di Jawa Barat. Tujuh Kabupaten dengan kasus kematian ibu tertinggi pada 2016, yaitu Garut (74 kasus), Karawang (61 kasus), Indramayu (60 kasus), Bogor (58 kasus), Sukabumi (51 kasus), Cirebon (47 kasus), dan Bandung (46 kasus).

0 Komentar