Pelatihan bagi 48 peserta Avsec yang dimulai sejak Senin 27 November 2017 tersebut digelar selama satu bulan ke depan. Mereka akan mengikuti berbagai rangkaian kepelatihan dan pendidikan kesamaptaan untuk mengasah mental dan fisik selama satu pekan. “Lalu pelatihan basic (Avsec) nya tiga minggu. Mereka dibekali ilmu-ilmu tentang standar keamanan bandara. Karena selain teknologi yang akan bekerja mereka juga harus tetap melakukan pengamanan tapi juga kenyamanan untuk calon penumpang,” imbuh Suyatmo.
“Jadi harapan petugas Avsec harus tegakan disiplin dan harus pahami regulasi. Kedua harus berikan layanan penumpang dengan prima biar aman diajuga harus nyaman. kombinasi sikap, ketermapilan kemampuan dan etika jadi harus satu,” kata Suyatmo.
Seluruh peserta yang berhasil melewati tahap tersebut nantinya akan mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan Direktorat Keamanan Perhubungan (Dirkampen) yang bernaung dibawah Kementrian Perhubungan. Sertifikat itulah yang nantinya akan menjadi bekal untuk bisa menjadi petugas keamanan bandara.
Baca Juga:Soal Pemakaman Mewah, Warga Pertanyakan MUI Kab Cirebon “Kemana Saja”Kasus Pungli Desa Astanamukti Sudah Di Tangan Polres Cirebon
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Kadisnaker) Kabupaten Majalengka Ahmad Suswanto menambahkan, sebagai penyelenggara regulasi ditingkat daerah pihaknya mendukung apa yang sudah dilakukan PT BIJB. Dengan hadirnya bandara bertaraf internasional, harapannya jurang pengangguran di Majalengka bisa berkurang pesat. “Diharapkan dengan adanya BIJB akan mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Majalengka dengan penyerapan tenaga kerja yang optimal tentunya sesuai persyaratan dan kompetensinya,” ungkap Ahmad ditemui terpisah.
Tulang Punggung Keluarga
Harapan Toni (20) begitu besar saat berada dalam diklat Avsec STPI Curug. Selama ini kehidupan keluarganya sangat bergantung pada dirinya. Sejak lulus SMA tahun lalu pemilik nama lengkap Toni Hamdan Prasetyo banting tulang untuk dapat memenuhi kekurangan kebutuhan rumah tangga. “Saya berharap bisa lulus dari sini dan bisa membanggakan orang tua. Sejauh ini orang tua saya kurang karena bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibu saya merupakan rumah tangga,” tuturnya.
“Saya punya adik kembar yang harus dicukupi untuk sekolah juga,” ucap Toni yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai restauran di Jakarta.
Sama halnya dengan Mia Amalia (19). Ekspektasi hadirnya BIJB di tanah kelahirannya bisa berdampak positif bagi kehidupan keluarganya, umumnya buat warga Majalengka. Mia yang sudah beranjak dewasa tidak bisa lagi bergantung pada orang tua yang hanya bekerja sebagai sopir.
