Dalam dunia santri pun, telah dibiasakan untuk hidup rukun dalam keberagaman. Aher mencontohkan, di sebuah pesantren, santri yang mondok, tidak hanya dari daerah setempat saja, namun mereka terhimpun dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan karakter yang beragam, mereka berkumpul menimba ilmu agama bersama-sama dalam bingkai kebhinekaan. Disamping, hidup damai dengan umat lainnya merupakan nilai yang tak pernah lupa ditanamkan pada diri para santri. “Warna-warni kehidupan bukanlah sebuah mutu, namun mutu kehidupan dihasilkan dari kualitas diri,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat Akhmad Buchori, berharap kegiatan HSN menjadi amal soleh tersendiri. Karena menurutnya, Hari Santri Nasional merupakan bukti sejarah, bukti keberadaan ulama dan santri yang diakui oleh negara, yang berpartisipasi dalam proses kemerdekaan republik Indonesia, juga mengisi, bahkan berkecimpung di berbagai bidang didalamnya.
Dengan adanya HSN, keberadaan santri mempunyai tempat yang mulia dan diakui secara institusional. “Hari santri kebanggaan kita bersama. Dengan peringatan hari santri, kita perlu mengingat perjuangan para ulama kita, santri-santri kita,” tegasnya.
Baca Juga:Menanti Sepak Terjang Loeke Larasati Agoestina Sebagai Kajati JabarBerikut Cara Mengatasi Anak Yang Kecanduan Gadget Akut
Di Jawa Barat, ungkap Kakanwil Kemenag, pondok pesantren cukup besar jumlahnya, karena itu pondok pesantren juga berperan membentuk karakter masyarakat. Maka dalam hal mempertahankan NKRI tidak perlu diragukan lagi. “Pesantren di republik ini akan menjadi pilar yang tidak bisa diganggu gugat, mempertahankan kebhinekaan Republik Indonesia,” pungkasnya. (hms/rls)
