Bisa Jadi Contoh, 70 Orang/Lembaga Raih Penghargaan Teladan dari Gubernur Aher

Bisa Jadi Contoh, 70 Orang/Lembaga Raih Penghargaan Teladan dari Gubernur Aher
0 Komentar

Tak hanya itu, ketika penjurian pun pengalaman dalam berorganisasi, pengetahuan umum, hingga wawasan kebangsaan dan Pancasila, serta Undang-Undang atau Hukum tentang Perkawinan menjadi materi penilaian ketika mereka awal ikut Lomba Keluarga Teladan di tingkat RW, Kelurahan, dan Kecamatan.

“Kebetulan yang ikut lomba ini harus yang aktif di masyarakat. Karena saya pernah sebagai Ketua PKK di RW tempat saya tinggal,” ujar Lies.

“Kalau saya pernah jadi Ketua RT, Ketua RW, sekarang jadi Ketua DKM. Megang yayasan juga yang membawahi TK (Taman Kanak-Kanak),” tambah Prasetyo.

Baca Juga:FPMI Jabar: Cabut Perppu Ormas, Tolak Rezim RepresifHUT RI, Kapolsek Rajapolah Gelar Turnamen Sepak Bola Antar Desa

Awal mengikuti Lomba Keluarga Teladan ini, Lies dan Prasetyo bercerita bahwa mereka sempat dibohongi oleh pihak Kelurahan. Mereka memang tidak ingin berpartisipasi dalam lomba. Tapi karena akal-akalan sang Lurah, waktu itu Lies dan Prasetyo diundang mengikuti pembinaan keluarga di kelurahan. Padahal, pembinaan tersebut adalah bagian dari penilaian peserta Lomba Keluarga Teladan.

“Waktu itu memang ada pembinaan tapi ada meja-meja gituh buat wawancara, dan tanpa kami sadari. Setelah diumumkan pemenangnya. Dan kebetulan juara satu kami ini,” kisah Lies dan Prasetyo.

Sebagai Keluarga Sakinah Teladan, Prasetyo mengungkapkan ada tiga hal yang selalu dia ajarkan kepada anak-anak dan cucunya. Yaitu agama, kejujuran, dan kesederhanaan. Selain itu, komunikasi dan candaan pun menjadi bumbu dalam keluarga agar lebih memperat tali kasih sayang diantara keluarga mereka.

“Sebetulnya mendidik anak tiga kuncinya. Landasan agama, mereka (anak-anak) harus taqwa. Yang kedua, harus mau hidup jujur. Yang ketiga berpenampilan sederhana. Tiga itu saja,” ucap pria Purnawirawan TNI AU dari Husein Sastranegara Bandung ini.

Meskipun memiliki Ayah dengan pensiunan Kolonel Teknik pada 2004 lalu, anak-anak Prasetyo tidak pernah merasa sombong dan mengusung dada bahwa Ayahnya seorang TNI. Keluarga Prasetyo seperti masyarakat biasa dan tidak pernah menjadikan aji mumpung karena memiliki Ayah seorang anggota TNI.

“Anak saya tidak pernah merasa bapaknya TNI. Biasa saja, berpenampilan biasa seperti masyarakat. Ga pernah gagah-gagahan gituh, ngga,” tutur Prasetyo.

Lies dan Prasetyo mempunyai pesan agar seluruh keluarga di Jawa Barat mempunyai landasan iman yang kuat. Prasetyo menekankan kita jangan sampai terpengaruh oleh hal negatif dari teknologi, seperti smartphone dan media sosial. Sementara dalam hidup bermasyarakat, menurut Prasetyo gotong royong masih tetap perlu dikedepankan.

0 Komentar