‘Creative Research’, Jabar Punya 5 Komoditas Unggulan

'Creative Research', Jabar Punya 5 Komoditas Unggulan
0 Komentar

Enam Kopi Arabica Java Preanger (KAJP) yang mewakili Indonesia merupakan kopi terbaik Jawa Barat dan memiliki beberapa keunggulan aroma yang kuat, cita rasa khas (unik). Aroma yang jelas tercium adalah aroma Blueberry, Floral, Jasmine, sweet aftertaste, vanilla, lychee. Apricot, Caramel, sweet finish, full body. Fruity, Lime Acidity, Maple Syrup, Slightly Floral, Clean Finish Nutty, Ripe Cherry, Slightly Floral, Toffee, Dark Chocolate. Apple, Vanilla note, Roasted Peanut, Sweet Melow, Honey.

Selain itu kopi ini bisa dikatakan kopi yang ringan atau smooth. Tentunya untuk para pecinta kopi dengan citarasa lembut dan aroma yang unik, Kopi Arabika Java Preanger dapat dijadikan sebagai pilihan yang tepat untuk menemani aktivitas sehari-hari, untuk melahirkan ide-ide briliyan dan juga untuk bersantai.

“Upaya ini tentunya meningkatkan produktifitas, meningkatkan kualitas dan daya saing, sehingga dampaknya secara nyata bisa kita lihat lapangan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat meningkat,” katanya.

Baca Juga:BOMA Jabar Berikan Gelar “Wadonna Pinunjul” Kepada Menteri Susi PudjiastutiPemerintah ‘Katanya’ Sudah Buat DIM dan Siap Bahas Revisi UU ASN

Tanaman kopi ini juga bagus sebagai tanaman konservasi yang ditanam di hutan-hutan gundul. “Kopi asli, digiling bukan digunting! kopi sehat, tidak ada gula diantara kita!” Seru Aher.

Ketiga Lele Sangkuriang, ialah ikan lele yang disentuh teknologi, dengan kunyit dan serum tertentu yang dicampur di pakan, sehingga produksinya bisa lebih meningkat, yang asalnya bisa dipijahkan dua kali setahun, menjadi empat kali setahun.

“Jadi perbanyakan bibitnya bisa dua kali lipat, kemudian tentu saja nilai ekonominya ke ih tinggi. Lele ini larvanya lebih panjang, sehingga ikannya lebih besar, dengan waktu yang lebih pendek,” katanya.

Berikutnya yang keempat kata Aher, yakni tanaman indigofera sebagai pakan ternak. Dalam usaha peternakan, faktor pakan menjadi jadi penting karena faktor inilah yang menghabiskan biaya cukup besar. Maka dengan indigofera, ditemukan jenis pakan ‘hijau-hijauan’ yang baru.

“Biasanya pakan ternak itu ‘hijau-hujauan’ ditambah konsentrat, hijaunya dari rerumputan, dan tumbuh-tumbuhan, konsentratnya dari bungkil ataupun konsentrat yang dijual di pasar bebas. Harganya cukup mahal,” kata Aher.

“Tapi ketika beralih ke indigofera, hijauan plus konsentratnya sudah terkandung langsung pada rumput ini. Lalu jenis rumput ini kita budidayakan, dan sertifikasi, supaya keunggulannya terkontrol,” imbuhnya.

0 Komentar