‘Creative Research’, Jabar Punya 5 Komoditas Unggulan

'Creative Research', Jabar Punya 5 Komoditas Unggulan
0 Komentar

“Tentu dari larva nanti ke pendederan, menjadi bibit, bibitnya pun meningkat antara 20-30 kali lipat dibanding dengan proporsi semula, tentu ini berdampak ekonomi karna yang dijual masyrakat menjadi lebih banyak, yang bisa dibagikan ke masyarakat di perairan umum juga lebih banyak,” ungkapnya.

Sehingga, selain ada pertumbuhan perikanan yang bagus di ikan patin ini. Saat yang sama nilai jual juga semakin tinggi, yang kemudian yang dijual juga lebih banyak. Jadi ekonomi masyarakat juga dapat meningkat.

Kedua kata Aher, dirinya menjelaskan Kopi Java Preanger. Kopi ini menurutnya adalah kopi yang terkenal sejak lama, tapi semenjak tahun 1922 kopi ini sempat terkena virus sehingga hilang dari dataran- dataran Jawa Barat.

Baca Juga:BOMA Jabar Berikan Gelar “Wadonna Pinunjul” Kepada Menteri Susi PudjiastutiPemerintah ‘Katanya’ Sudah Buat DIM dan Siap Bahas Revisi UU ASN

Kemudian kini muncul kembali, melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2011 Gubernur memberikan fasilitas Unit Pengolahan Hasil (UPH) bagi petani kopi di 4 Kabupaten (Bandung, Bandung Barat, Garut dan Ciamis) dengan tujuan meningkatkan serapan tenaga kerja dan meningkatkan mutu kopi Jawa Barat.

Pada tahun yang sama, perlindungan indikasi geografis kopi arabika java preanger mulai diproses, baik pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) maupun penyusunan buku dan peta indikasi geografis yang akan digunakan sebagai persyaratan untuk memperoleh Indikasi Geografis.

“Alhamdulillah hasil dari upaya tersebut mampu menghadirkan nilai kesejahteraan yang lebih tinggi, dari yang asalnya hanya Rp 30 ribu per kilogram Green been, sekarang sudah sampai di minimal Rp 125 ribu, dan kopi terbaiknya mencapai Rp 700 ribu per kilogram Green been,” paparnya.

Kemudian inovasi yang dilakukan selain pemasaran ke luar negeri juga adalah diupayakannya inovasi sertifikasi bibit unggul. Dengan rekayasa teknologi pada bibit tersertifikasi. Sekarang, bibit yang asalnya ditanam tiga tahun baru berbuah, setelah ada rekayasa teknologi bibit unggul tersebut hanya 11-12 bulan sudah bisa berbuah.

Dampak ekonominya tentu menjadi semakin banyak produksi kopi, dan harganya pun semakin tinggi. Sejarah mencatat dan pengakuan dunia pun membuktikan kembalinya citra Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) terangkat melalui perhelatan SCAA di Atlanta Amerika Serikat pada bulan April 2016 lalu.

0 Komentar