Pantau Harga Pangan, Jabar Kembangkan EWS

Pantau Harga Pangan, Jabar Kembangkan EWS
0 Komentar

“Aktif dalam pengembangan operasional e-Priangan di wilayah masing-masing sebagai operasi pasar virtual yang sifatnya tidak insidentil,” ujarnya.

Kemudian, katanya, menyusun neraca pangan secara berkala sebagai dasar inisiasi kerjasama antardaerah, memberdayakan masyarakat dalam kegiatan usaha tani mandiri melalui program Kampung Peduli Inflasi / Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Juga tak kalah penting, meningkatkan koordinasi antar instansi di masing-masing Kabupaten/Kota maupun koordinasi antar Kabupaten/Kota dalam rangka mengantisipasi permasalahan pengendalian inflasi baik yang akan terjadi maupun yang sedang terjadi.

Baca Juga:SKPD Harus Antisipasi Libur LebaranBupati Ingatkan Penggunaan Dana Desa

“Dan Operasi Pasar sebagai langkah awal dalam mengatasi lonjakan harga,” katanya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Wiwiek Sisto Widayat menyampaikan bahwa pengembangan fitur EWS PRIANGAN juga menjadi salah satu ‘tools’, atau alat untuk mendukung pemerintah untuk pengambilan kebijakan dalam menjaga kestabilan harga, meminimasi disparitas harga, dan menjamin ketersediaan bahan pokok.

Selain itu, dengan adanya fitur tambahan dari PRIANGAN diharapkan juga mampu membentuk persepsi positif dari masyarakat dan dapat menekan ekspektasi masyarakat akan gejolak harga komoditas.

“Tonggak awal dari fitur EWS berasal dari Kementerian Perdagangan menggagas suatu perangkat pemantauan harga komoditas pangan strategis yang disebut Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok atau SP2KP,” Ucapnya.

“Pada tahun 2017 ini, pengembangan PRIANGAN diarahkan pada optimalisasi fitur Early Earning System (EWS) yang akan diintegrasikan, baik pada website PRIANGAN maupun pada aplikasi ponsel PRIANGAN,” Katanya.

Sebagai langkah awal, Wiwiek membeberkan, EWS akan memantau pergerakan harga 10 komoditas pangan strategis (Beras, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabai Merah, Cabai Rawit, Daging Ayam Ras, Telur Ayam Ras, Daging Sapi, Gula Pasir, dan Minyak Goreng) berdasarkan data harga harian di 7 Kota Sample IHK di Jawa Barat (Bandung, Bogor, Depok, Bekasi, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Cirebon).

Data yang digunakan dalam sistem EWS merupakan rata-rata harga harian dari komoditas pangan strategis di pasar yang disurvei di masing-masing kota. Adapun indikator threshold terdiri dari 4 (empat kategori), yaitu:

Baca Juga:Pemkab Bekasi Akan Daftarkan Seluruh Warganya Menjadi Peserta JKN-KISDD 2017, Desa Babakangebang Benahi Infrastruktur Di Banyak Bidang

– Jika harga naik di atas 5% atau berada pada kategori Normal, maka pergerakan harga dinilai normal namun terdapat kecenderungan kenaikan harga.

0 Komentar