“Kesiapsiagaan terkait sumber daya dan peralatan menjadi sebuah keniscayaan, agar kita dapat memberikan respon secara cepat dan tepat terhadap bencana yang terjadi, terutama pada masa tanggap darurat atau 72 jam pertama yang meliputi pendataan secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan dan sumber daya, penentuan status keadaan darurat bencana, penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kepada kelompok rentan, serta upaya pemulihan prasarana dan sarana vital,” tuturnya.
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia Harry Hikmat, mengaku yakin TAGANA Provinsi Jawa Barat dapat mengemban amanah ketika Jawa Barat terjadi bencana, satu jam siap berada di tempat, dan selalu berupaya sekeras mungkin, sekuat tenaga melakukan berbagai upaya pertolongan bantuan, dan perlindungan bagi para korban yang terkena bencana alam, maupun bencana sosial.
Akhir -akhir ini kata Harry, terlihat cukup perihatin dengan beberapa bencana yang terjadi di Provinsi Jawa Barat, dari data nasional yang Ia sebutkan, ada 323 Kabupaten/ Kota yang termasuk rawan bencana, dan sebagian diantaranya ada di Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga:Sambut Raja Swedia, Aher Jelaskan World Class University & StadionRayakan 25 Tahun, CCAI Bersih-bersih Di 7 Kota
“Ada bencana banjir, longsor, pergerakan tanah, mewarnai kehidupan kita dalam beberapa bulan terakhir. Seperti yang terjadi misalkan di Garut, Sumedang, Tasik, dan beberapa tempat lain. Dan kami melihat secara nyata TAGANA hadir berjibaku mendedikasikan dirinya dan melakukan berbagai upaya pertolongan secara militan tanpa kenal lelah, ini wujud dari kedewasaan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) menginjak usia yang ke -13 tahun,” katanya.
Maka dari itu Ia menyatakan, Kementerian Sosial sangat yakin bahwa kebijakan yang mengutamakan manajemen penanggulangan bencana berbasis komunitas merupakan manajemen pertama dan utama yang perlu diprioritaskan.
Oleh karena itu Harry menuturkan, pihaknya mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas dukungan dan komitmen untuk memastikan bahwa TAGANA selalu siap di tempat, baik pada saat upaya pencegahan, penanganan, maupun paska bencana.
Harry pun menuturkan bahwa Kementerian Sosial membuka ruang selebar-lebarnya untuk seluruh elemen masyarakat untuk menjadi sahabat TAGANA.
“Kita sudah deklarasikan ada Pramuka Siaga Bencana (Pratama), ada RAPI atau radio republik Indonesia yang siap dalam penanganan bencana, ada Mahasiswa Pencinta Alam Siaga Bencana (MAPAGANA), difabel (Difagana), ada pula jurnalis siaga bencana, bahkan beberapa ormas juga telah bergabung sebagai sahabat TAGANA,” ungkapnya.