Ia mengatakan pihaknya sudah berupaya bertemu Wiranto untuk memberikan penjelasan namun permintaan audiensi tak dipenuhi. Ia juga mengatakan siap untuk menghadapi proses pembubaran melalui pengadilan. Pengumuman rencana pembubaran ini mendapat tanggapan beragam. Sebagian mengatakan setuju dan mendukung langkah pemerintah.
‘Harus ada argumen yang kuat’
Peneliti Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, Rumadi Ahmad mengatakan bahwa ideologi HTI tidak sesuai dengan Pancasila. “HTI ini bukan gerakan keagamaan, tapi gerakan politik yang secara ideologis bertentangan dengan dasar negara. Kelihaian HTI adalah menggunakan gerakan politik namun dibungkus dengan isu keagamaan,” kata Rumadi.
Mantan menteri yang juga pengurus Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan pemerintah harus bisa memapakan argumen yang kuat dan komprehensif. “Langkah hukum benar-benar harus didasarkan atas kajian yang mendalam dengan alat bukti yang kokoh. Sebab jika tidak, permohonan pembubaran bisa dikalahkan,” kata Yusril.
Baca Juga:Kapolsek Babakan AKP Edi Baryana Pindah Tugas Ke Polsek GebangSister Province berpeluang Dongkrak Investasi Asing di Jabar
Sementara itu Noorhadi Hasan, guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mengatakan HTI mestinya tak perlu dibubarkan. “Itu bisa (menjadi) liar, bisa ke mana-mana. Kalau mereka ada di dalam wadah HTI, lebih mudah dikontrol sebenarnya,” jelas Noorhadi, yang pernah melakukan penelitian Narasi Islamisme dan Politik Identitas di 20 provinsi di Indonesia.
Lagi pula, kata Noorhadi, wacana tentang kebangkitan khilafah dianggap lebih sebagai strategi diskursus dari sekelompok orang yang merasa tidak mendapat keuntungan dalam sistem politik, eknomi, hukum, serta sosial di negara modern dan demokrasi Indonesia.
“Jadi sebenarnya mereka mau mengatakan kapan janji- janji kemajuan dan keadilan diwujudkan. Sampai hari ini kami tetap juga tidak bisa mendapatkan yang seharusnya kami dapatkan, soal pemenuhan hak-hak dasar waga negara misalnya. Protes atas itu, mereka menggunakan bahasa simbol tertentu dengan mendukung ide khilafah,” katanya. (dbs)
