Crown Group Bidik Australia Jadi Kawasan Investasi Properti

Crown Group Bidik Australia Jadi Kawasan Investasi Properti
0 Komentar

BANDUNG – Crown Group sebuah perusahaan properti terkemuka Australia yang fokus dalam pengembangan properti, investasi properti dan hotel yang berbasis di Sydney ini mengklaim bahwa investasi properti di Australia akan tetap menjadi primadona dan pilihan yang tepat bagi para investor Asia, khususnya Indonesia. Hal ini disampaikan Bagus Sukmana selaku GM Strategic & Corporate Communication Indonesia, saat menggelar Media Presentation 2017 di Luxton Hotel Bandung, Selasa (21/02).

Menurut Bagus Sukmana, hal ini dipengaruhi oleh dua faktor penting yang dapat dijadikan pertimbangan dan acuan yakni, faktor internal dan faktor eksternal. Dilihat melalui faktor internal, saat ini Pemerintahan Australia khususnya Sydney tengah gencar melakukan investasi besar besaran dalam pembangunan infrastruktur dan peremajaan transportasi masal, hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi akan semakin pesat mengingat waktu tempuh akan semakin singkat serta iklim pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Hal ini juga diperkuat oleh SQM Research, salah satu analis paling berpengalaman di Australia menyebutkan bahwa, investasi properti tahun 2017 untuk wilayah Sydney dan Melbourne diperkirakan kenaikan harga properti akan kembali menyentuh angka dua digit, meski tingkat pertumbuhan masih lebih rendah dari tahun 2015 lalu di angka 19 persen, Louis Christopher selaku pendiri SQM Research optimis perkiraan pertumbuhan harga untuk Sydney tahun 2017 masih berkisar 11-16 persen dan Melbourne sebesar 10-15 persen.

Baca Juga:Gubernur Lantik 232 Pejabat Eselon Pemprov JabarJabar Masuk Daftar Peringkat Tertinggi Kinerja Pemerintahan Daerah

“Pandangan kami adalah, bahwa akselerasi ini akan terus berlanjut dan akan terus berlanjut di tahun 2017,” ujar Bagus.

SQM juga memprediksi tingkat pertumbuhan biaya sewa di Sydney akan mengalami pertumbuhan sebesar 4% dan Melbourne mencapai 3% pada tahun 2017. Adapun faktor eksternal lebih lanjut Bagus menyebutkan, adalah Singapura sebagai perbandingan, Monetary Authority of Singapore (MAS) memprediksi ekonomi Singapura tumbuh dikisaran 1-3% tahun 2017. Sementara perusahaan finansial yang berbasis di Asia, Nomura Holding justru memangkas prediksinya dari 1% menjadi hanya 0,796.

Menurut Nomura Holding ekonomi dalam negeri Singapura juga akan mendapat banyak tantangan. Tingginya utang individu dan korporasi akan terkena imbas dari naiknya suku bunga AS akan memperketat likuiditas di Singapura. “Ekonomi Singapura yang serba terbuka sekaligus pusat finansial Asia akan sangat terdampak oleh peristiwa yang terjadi di dunia barat”, ujar Bagus.

0 Komentar