Maya salah satu moderator mengungkapkan bahwa kegiatan workshop ini memberikan wawasan terkait penelitian mulai penyusunan hingga publikasi ilmiah yang memiliki mutu yang baik untuk Indonesia. “Nah tiga hari itu kita diajar bagaimana menyusun penelitian, melakukan publikasi internasional terus bagaimana membuat penelitian yang bermutu yang berguna untuk Indonesia,” tuturnya. “ Diangkatnya tema tersebut bertujuan untuk membuka wawasan bagi para peneliti, akademisi, praktisi, dan mahasiswa di bidang psikologi sosial dalam menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi Asean dan tantangan pasar bebas dunia “ lanjutnya.
Kegiatan Temilnas yang dilaksanakan di Ruang Teater GAP, lantai 8 dibuka oleh Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari Summer School, seminar Temu Ilmiah, dan workshop. Kegiatan Summer School dan workshop dilaksanakan di ruang-ruang kelas Grha Widya Maranatha (GWM), sedangkan temu ilmiah dilaksanakan di Gedung Administrasi Pusat (GAP).
“Semoga hasil dari kegiatan Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Sosial yaitu pembentukan kelompok penelitian kolaboratif yang dilakukan masing-masing kelompok mahasiswa, dosen, LSM, Yayasan dan organisasi non profit pemerintah akan menghasilkan angin segar bagi kesejahteraan masyarakat yang bukan hanya sekedar mempresentasikan hasil penelitiannya pada kegiatan Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) berikutnya dalam jangka waktu satu tahun setelah melewati babak penentuan pada pengumpulan proposal di bulan Desember 2016.
“demikian harapan Ketua Pelaksana Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Sosial Dr Jaqueline Tjandraningtyas., Spsi., M.Psi. “Outputnya itu sekarang para peserta Temu Ilmiah sudah membawa PR (baca: pekerjaan rumah) untuk membuat penelitian kolaborasi. Proposalnya sudah ada, tinggal melanjutkan tahun depan para peneliti harus presentasi “ Jelas Dr Jaqueline Tjandraningtyas., Spsi., M.Psi menutup wawancara ini. Peran serta Perguruan tinggi terutama keilmuan yang beririsan dengan Layanan Kesehatan Fisik Mental dan Sosial sudah berada diarea “ code red “ dalam melakukan implementasi yang nyata ditengah masyarakat baik untuk kesejahteraan juga bagi ketahanan kesehatan mental masyarakat menghadapi tantangan-gangguan dan hambatan perwujudan NKRI saat ini.
Baca Juga:Suminta: Gubernur, Bupati, dan Walikota Harus Kuasai Tiga “Jurus” IniPolres Tasik Tangkap Tujuh Pengedar Narkoba
Kolaborasi dan aplikasi penelitian psikologi sosial di Indonesia sebagai salah satu jawaban tantangan MEA sangat diperlukan untuk memberikan keseimbangan ketimpangan sosial yang diabaikan saat ini di segala lini, terutama bagi perempuan dan anak. “Panen bencana ” di Jawa Barat baik Bencana Alam dan Bencana Fisik,Mental dan Sosial harus segera mendapatkan jawaban dan solusi yang tepat dan efektif. Jika tidak; cenderung akan berkembang menjadi pelemahan tiang dan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketahanan tiang pancang keluarga NKRI yang wajib diperkuat saat ini adalah ketahanan keluarga dimana seluruh organisasi non profit, dan organisasi bentukan pemerintah seperti Dharma Wanita Persatuan, KORPRI seharusnya sudah siaga 1 dan berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi dalam menjalankan program kerja yang sudah disusun dalam rencana strategis dari hulu ke hillir. (*)