Ada Anggaran Rp 9,4 Miliar di Bina Marga Cirebon, “Jalur Neraka” Gebang – Babakan Kapan Diperbaiki?

Ada Anggaran Rp 9,4 Miliar di Bina Marga Cirebon, "Jalur Neraka" Gebang - Babakan Kapan Diperbaiki?
0 Komentar

CIREBON – Kondisi jalan di jalur Gebang – Babakan Kab Cirebon semakin memprihatinkan. Pantauan Jabar Publisher di jalur tersebut, Selasa (19/4) pagi, di sepanjang jalan nampak ratusan lubang jalan menganga dengan ukuran yang bervariasi, ada yang kecil namun lubang yang besar jauh lebih banyak. Tak hanya itu, di beberapa titik, kontur jalannya pun menjadi bergelombang.jalan babakan gebang

Kondisi ini jelas sangat membahayakan pengguna jalan. Terlebih jalur tersebut merupakan jalur vital yang dilewati ribuan kendaraan setiap harinya, baik kendaraan roda dua, mobil pribadi, angkutan umum, bus hingga truk-truk pasir. Ironisnya hingga akhir April 2016 ini belum ada tanda-tanda perbaikan jalan di jalur Babakan – Gebang secara menyeluruh.

Marotin, Warga Gebang Kulon mengatakan, Ia lebih memilih memutar rute yang jaraknya lebih jauh ketimbang lewat jalur itu. “Lewat jalur Gebang – Babakan – Pabuaran sudah tidak nyaman lagi. Kalau panas berdebu, kalau hujan beceknya minta ampun. Jadi mending muter atau lewat jalan tikus lah,” cetusnya.

Baca Juga:Hebat Uy! Rakerda Disdikpora Karawang Telan Anggaran Rp185 JutaKritik Reklamasi Teluk Jakarta, Iwan Fals Diserang Relawan Ahok

Sementara itu, Priyatna, pengguna jalan lainnya, memiliki julukan khusus untuk Jalan Gebang – Babakan ini dengan sebutan ‘Jalur Neraka’. “Kalau gak hafal letak lubangnya di mana, bisa masuk jalur neraka mas. Kalau oleng ya otomatis jatuh dan luka-luka. Mungkin hafal yang naik motor di sini kaya apa ugal-ugalannya,” kata Priyatna di sela-sela pemantauan JP di lokasi.

Sedangkan Sulaiman, Warga Desa Dompyong Wetan menuturkan kenangan pahitnya. Di mana beberapa tahun silam adiknya meregang nyawa akibat kecelakaan lalu lintas. Diduga kuat kecelakaan tersebut akibat jalan rusak. “Sampai sekarang saya tidak berani lewat jalan itu lagi. Teringat almarhum adik, mending muter lewat Kalipasung,” kenangnya.

Rusaknya jalan tersebut bukan hanya karena kualitas aspal atau cuaca yang terus-terusan hujan, melainkan karena banyaknya armada pengangkut pasir yang hilir mudik di sana setiap harinya. Padahal jalan tersebut merupakan jalan kelas III C (Jalan lokal dan jalan lingkungan dengan lebar tidak melebihi 2.100 milimeter, panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat 8 ton). Lagi-lagi ironis, karena upaya penegakan lalu lintas pun terkesan nihil, padahal pelanggaran terjadi setiap hari.

0 Komentar