Jabar Masih Menjadi Primadona Investor di 2015

Jabar Masih Menjadi Primadona Investor di 2015
1 Komentar

“Dampak dari suku bunga yang masih tinggi itu adalah investasi menjadi tidak bergairah. Kalau tidak bergairah tentu produksi juga menjadi rendah dan yang dikonsumsi masyarakat jadi lebih sedikit. Ditambah suku bunga juga – khawatir – sedikit banyak berpengaruh pada kemampuan konsumsi. Kita bayangkan kalau kemampuan konsumsi rendah kemudian pada saat yang bersamaan juga investasi rendah dan tidak bergairah, pertumbuhan (ekonomi) juga menjadi rendah,” papar Aher usai dialog.

Selain berdampak pada pertumbuhan ekonomi, menurut Aher suku bunga tinggi juga akan berpengaruh pada nasionalisme masyarakat terhadap dunia perbankan nasional. “Dan bahaya juga secara nasionalisme ya, karena kalau suku bunga itu tinggi jangan-jangan bank asing laku di Indonesia. Bank sendiri kemudian diabaikan oleh masyarakat kita sendiri,” kata Aher.

Untuk itu, Aher ingin Bank Indonesia serta para pihak terkait lainnya agar bisa mengkaji penyebab dari BI Rate yang masih tinggi tersebut. Karena apabila dibandingkan dengan negara Asean lainnya BI Rate memiliki nilai paling tinggi.

Baca Juga:Bupati Cirebon akan Perjuangkan Nasib Guru HonorerNih Maling Apes, Bukannya Dapat Barang Malah Dapat Bogem Mentah

Acara dialog nasional ini dibuka oleh Menteri Desa, PDT & Transmigrasi Marwan Jafar yang mengantarkan makalah berjudul “Revitalisasi Peran Sektor Keuangan Dalam Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal”, serta dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad sebagai keynote speech. Turut hadir sebagai narasumber yaitu Anggota Dewan Komisioner OJK Nelson Tampubolon, Wakil Walikota Pasuruan Jawa Timur Raharto Teno Prasetyo, Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani. Hadir pula Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Arif Budisusilo sebagai moderator, perwakilan dunia perbankan nasional, serta para peserta dialog. (jp/adv)

1 Komentar