Anggotanya Salah Tangkap DPO, Kapolres Cirebon Minta Maaf

Anggotanya Salah Tangkap DPO, Kapolres Cirebon Minta Maaf
0 Komentar

“Tidak menaruh curiga kalau adik saya itu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Kan biasanya juga banyak teman atau tetangga nginep di rumah, saya ga masalah. Masa adik sendiri nginep gak boleh. Saya gak tau kalau dia DPO bukan berarti saya menyembunyikan,” ujar Toni kepada Jabar Publisher, Sabtu (19/12/2015).
Ditambakan Toni, awalnya jam 05.30 WIB anaknya sedang di teras rumah, bersih-bersih. Tiba-tiba para anggota polisi itu menodongkan pistol kepadanya. “Anak saya itu disuruh masuk sambil terus menodongkan pistol. Saat itu saya mau mandi, anggota polisi menyangka saya Asep. Mereka menangkap saya. Saya membela diri bahwa saya bukan Asep. Tetapi anggota tersebut masih tetap menuding saya Asep. Mereka menginterogasi saya sembari menjambak rambut dan menendang kaki dan dada saya,” terangnya.
Kejadian kekerasan yang dialami Toni ini bukan hanya di rumah, anggota tersebut itu malakukan tindak kekerasan sebelum membawanya ke dalam mobil. “Mata dan tangan saya diikat menggunakan selotip hitam dan di dalam mobilpun siku tangan disetrum, kaki disulut rokok dan badan dipukul,” tambahnya.
Dia mengaku disetrum selama 3 menit sekali dan sesampainya di Mapolres Cirebon dirinya masih dalam kondisi terikat dan mata tertutup disiska . “Kepala saya ditendang, badan juga ditendang sampai saya tersungkur dan luka di kaki,” katanya.
Ditambahkan dia, ketiga adiknya yang menjadi incaran polisi itu bernama Nurudin alias Asep, Apudin dan Fauzi alias Aziz, ia pun baru mengetahui kalau adik-adiknya itu terlibat kasus perampokan dan pembunuhan. “Saya bisa bebas karena pengakuan yang sudah ketangkap terdahulu yaitu Sulaeman dan Sobari. Menurut kedua orang itu Asep bukan itu orangnya. Saya dibebaskan jam 8 malam dan tragisnya saya hanya diantarkan sampai Alun-alun Desa Kalitengah, bukannya diantarkan sampai rumah,” ungkapnya.
Masih dikatakan Toni, sebelum dibebaskan, ia disuruh menandatangani berkas sebanyak 9 kali tanda tangan dan anggota itu berucap jangan menaruh dendam. Saksi mata yang sekaligus anak kandung Toni, Fatmawati (19), mengatakan, awalnya dia ada di teras rumah lalu ditodong pakai pistol suruh masuk.

0 Komentar