Selanjutnya, ketika terjadi perubahan aturan dalam pemilihan kepala daerah. Proses pemilihan yang semula dilkasanakan oleh DPRD, kini dialihkan menjadi kewenangan rakyat. Berbekal insting politik yang terbukti dan teruji mengantarkan Dedi ke garda terdepan sebagai Bupati Cirebon periode kedua secara berturut-turut. Resepnya, Ia tidak saja melakukan penggalangan di DPRD, melainkan di luar parlemen dan partai.
Seperti kelompok strategis di tengah masyarakat. Dedi yang berpasangan dengan Ason Sukasa akhirnya menang mengungguli dua rivalnya, yakni pasangan Djakaria Machmud-Arif Natadiningrat dan Sunjaya-Abdul Hayi Imam. Kepeduliannya terhadap rakyat mengantarkan kemenangan. Selain tekun merajut karier di pemerintahan, dan bergelut di dunia politik.
Menjelang akhir kepemimpinannya, Dedi Supardi pun sempat meramaikan kancah perpolitikan di Jawa Barat yakni dengan menjadi Bakal Calon Gubernur Jawa barat. Namun dari empat kandidat yakni Dedi Supardi (Bupati Cirebon), Rike Diah Pitaloka (Anggota DPR dari PDIP), Aang Hamid Suganda (Bupati Kuningan), dan Gatot (pengurus DPD), akhirnya Rike lah yang berhasil bertarung di Jawa Barat.
Baca Juga:Mantan Bupati Cirebon, Dedi Supardi Meninggal DuniaPak Wali dan Pentolan Viking Ngaku Nyesek Persib Bubar
Passion Dedi Supardi memang politik. Terbukti pada 2013, dia memberikan dukungannya kepada sang istri Hj. Sri Heviyana Supardi untuk maju dalam Pemilihan Bupati 2013-2018. Heviyana maju dalam Pemilihan Umum Bupati Cirebon 2013 mencalonkan diri menjadi Bupati Cirebon didampingi oleh H Rakhmat Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Cirebon dengan jargon “HEBAT”.
Beberapa tahun belakangan, mantan Bupati itu sempat mengalam struk dan sakit-sakitan. Kamis 02 Juli 2015, tepatnya pukul 19.10 Dedi Supardi wafat di Intensive Care Unit Rumah Sakit Sumber Waras Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.
Selamat Jalan Sahabat wong cilikā¦! Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. (red/berbagai sumber)
