Cerita berlanjut ke ruangan kantor, perlahan saya berjalan dari tempat terakhir tadi, menuju ke arah kantor, melewati kantin berupa kios kios berjejer, dengan tempat duduk dan kanopi knockdown melindungi para pengunjung yang sedang menikmati sajian kantin dari terik matahari yang sedang riang-riangnya bersinar. Dari kejauhan saya melihat attention board yang berisi ketentuan dan tarif tarif yang berlaku untuk setiap pelayanan yang diberikan berikut dengan dasar hukumnya.
Hmmm… skakmat buat para calo yang sudah berniat untuk me mark up se enak udel tarif pelayanan yang berlaku, gumam saya dalam hati. Walaupun sedikit silau, saya berusaha untuk membaca sebagian besar kalimat yang tertera di Attention Board yang dibuat dengan ukuran yang cukup besar dan di pasang semi permanen di tembok gedung. Sambil berjalan perlahan dan membaca baca, mata saya kemudian terpaku pada sebuah nomor Handphone yang dicetak print dan dipampang dalam sebuah mading kaca.
Nomor HP Pimpinan kantor ini yang bisa dihubungi untuk melaporkan segala keluhan dan laporan atas perilaku pegawai atau tindak tanduk calo yang meresahkan. What the Nice Stuff, pekik saya kembali dalam hati. Di pintu masuk kaca, terpampang tulisan “Ruangan dalam kantor ini dilengkapi kamera pengawas”. Begitu seluruh badan saya memasuki ruangan… Serrrrrr, maknyess, wuademm, suejjuuukk, Pendingin ruangan bekerja dengan baik, sangat terasa ketika bekerja mendinginkan kepala yang sudah berasa hangat terpapar terik matahari.
Baca Juga:Terkait Kasus Dugaan Korupsi Gardu PLN, Yusril jadi Pengacara Dahlan IskanKepergok Selingkuh, PNS Kota Banjar Dipolisikan Istrinya
Pelayanan petugasnya pun boleh, Saya kasih 8,1 dalam skala 1-10, untuk nilai pelayanan yang diberikan selama saya berada di dalam ruangan dan selama saya mengikuti proses pelayanannya. Sudah saya buktikan sendiri, kalau Kantor imigrasi Kelas II Cirebon benar-benar bermetamorfosa. Ibarat sebuah fase, yang tadinya hanya seekor ulat, lambat laun menjadi kepompong dan berubah kembali menjadi kupu-kupu dengan sayap yang indah.
Perjalanan saya kemudian berlanjut hari itu ke Gedung Griya Sawala, Gedung DPRD Kota Cirebon, gedung tempat berkantornya para wakil yang terhormat. Ketika memasuki area parkir, hmmm, saya merasakan hal yang sangat berbeda dengan yang saya rasakan ketika datang di Kantor Imigrasi Kelas II Cirebon. Lihat tampilan depannya begitu masuk parkiran saja, kalau boleh meminjam bahasa anak jaman sekarang, kalimat yang tepat mungkin adalah “udah nggak banget deh”. Mau tau bagaimana kelanjutan ceritanya? ikuti terus Catatan Mang Iwenk! (*)
