Home » Artikel » Blockchain, Sebuah Manifesto Demokrasi dalam Bentuk Teknologi

Blockchain, Sebuah Manifesto Demokrasi dalam Bentuk Teknologi

DULU, untuk sekedar mengirimkan kabar dan dokumen penting saja kita harus menggunakan perantara jasa pos melalui surat yang kita buat dan terkirim beberapa saat lamanya. Lalu datanglah teknologi berupa telepon dan telegram yang memotong waktu tempuh komunikasi menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Meskipun konsekwensi dari itu harus dibayar dengan tagihan dan harga yang mahal bagi penggunanya. Kemudian, lahirlah teknologi internet yang lebih mempermudah dan mempercepat distribusi informasi.

Foto: Ilustrasi

Media sosial memudahkan interaksi dan saling berbagi pengalaman dalam ruang digital bagi setiap orang yang terpisah jarak. Email mengantikan fungsi surat menyurat tanpa terhambat waktu dan tanpa pihak perantara yang memerlukan cukup biaya. Dan semua layanan-layanan lain kini bisa diakses dengan cepat dan bersamaan hanya dalam batas genggaman tangan bernama telepon pintar.

Teknologi memungkinkan kita untuk bisa mengerjakan dan mengirim sesuatu dengan mudah, cepat, serta murah. Bayangkan, beberapa tahun yang lalu untuk mentransfer sejumlah uang kepada seseorang di luar kota, kita harus datang ke bank, mengantri, membawa kartu identitas, mengisi formulir, menandatangani kertas formulir yang harus akurat sesuai KTP, tentu akan menghabiskan banyak waktu. Setelah itu bank akan melihat buku catatan khusus riwayat transaksi kita yang hanya diketahui oleh pihak bank itu sendiri. Setelah ditinjau, baru bank mengirim uang kita ke rekening orang yang kita tuju dengan waktu 1 hingga 2 hari pengiriman.

Hal itu lah yang akhirnya memungkinkan teknologi ‘Blockchain’ menjungkir balik sistem transaksi perbankan yang ribet itu. Teknologi blockchain memungkinkan transfer nilai langsung antara pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi tanpa perantara. Hal ini membuat proses pembayaran global menjadi lebih cepat dan efisien, serta mengurangi biaya transaksi yang biasanya dikenakan oleh lembaga keuangan tradisional. Ini memungkinkan seseorang yang berada kota besar dunia manapun bisa dengan mudah mengirim uang kepada keluarganya yang berada di pelosok pedalaman di belahan bumi manapun hanya dengan sentuhan jari, murah biaya dan waktu yang cepat.

Teknologi Blockchain pertama kali diperkenalkam pada tahun 2008 oleh seseorang atau kelompok dengan nama samaran Satoshi Nakamoto yang menerbitkan whitepaper dengan judul, ‘ Bitcoin : A peer-to-peer Electronic Cash System’. Di sini, ia memperkenalkan konsep Blockchain sebagai dasar dari mata uang digital Bitcoin. Satoshi Nakamoto menciptakan sistem database yang kemudian disebut Blockchain. Secara sederhana, Blockchain adalah “buku besar publik” (digital ledger) untuk memastikan bahwa setiap transaksi yang terjadi menggunakan Bitcoin yang valid dan pergerakan uang itu dicatat dengan jelas.

Blockchain tidak hanya digunakan untuk transaksi, tetapi juga sebagai tempat penyimpanan identitas digital. Dengan menyimpan identitas dalam Blockchain, risiko pencurian atau pemalsuan identitas dapat diminimalkan, menambahkan lapisan perlindungan terhadap informasi identitas pribadi. Artinya teknologi ini sifatnya terbuka dan aman karena semua pengguna yang terhubung bisa saling mengawasi. Setiap transaksi yang dilakukan akan tertulis abadi tanpa bisa dihapus dan bisa diakses untuk dibaca setiap orang.

Foto: Ilustrasi

Kita ilustrasikan semisal A mempunyai nominal 10 juta dalam dompet digitalnya, lalu A mentransfer 10 juta itu kepada B. Semua tetangga yang mengetahui riwayat dompet A akan mencatat transaksi itu secara permanen. Lalu hal mencurigakan terjadi, besoknya A mentransfer lagi sejumlah nominal kepada B. Semua tetangga yang mengetahui riwayat dompet dan transaksi A menemukan indikasi kecurangan di dalamnya, entah itu didapat dari mencuri atau cara ilegal lainnya. Maka semua tetangga akan memberikan ‘lampu merah’ sebagai tanda pemberitahuan telah terjadi kecurangan berdasarkan data catatan yang mereka miliki. Dan secara otomatis sistem akan memblokir dompet dan segala kegiatan transaksi A secara permanen.

Untuk saat ini teknologi Blockchain berlaku pada lingkup mata uang dalam bentuk kripto saja seperti Bitcoin, Ethereum, dan bentuk mata uang kripto sejenis yang populer di market digital. Namun teknologi ini sangat memungkinkan untuk diterapkan pada bidang lain seperti industri, perdagangan, kesehatan dan banyak lagi.

Semisal dalam sektor industri, Blockchain memungkinkan pelacakan transparan dari proses produksi hingga pengiriman, meningkatkan akuntabilitas dan mengurangi risiko pemalsuan. Semua produk yang diregistrasi dalam Blockchain akan mudah dipantau legalitasnya dari hulu hingga ke hilir. Jika ada penyalahgunaan maupun pemalsuan dalam perjalanannya secara sistem status suatu produk akan terlacak.

Dalam bidang kesehatan tentu saja teknologi ini sangat membantu tenaga medis dalam melakukan pelacakan riwayat kesehatan seorang pasien. Bagi pasien juga tentu lebih efisien baginya dalam memperoleh pelayanan dari tenaga medis. Misalnya ada seorang pasien yang berpindah tempat lalu dia memeriksa kesehatannya di klinik berbeda dari tempat sebelumnya. Dokter cukup melihat riwayat dan perawatan (rekam medik) yang sudah dijalani hanya dengan mengakses dari gawai pasien yang sudah terintegrasi dengan sistem blockchain. Jadi dokter cukup melakukan treatmen lanjutan tanpa mengulangnya lagi dari awal.

Foto: Ilustrasi

Blockchain menjadi pondasi penting bagi dunia digital yang terdesentralisasi, aman, dan penuh dengan transparansi. Sudah seharusnya semua pihak baik pemerintah maupun swasta di negeri ini secepat mungkin terbuka untuk menerapkan teknologi mutakhir ini dalam berbagai sektor guna mendukung roda pemerintahan yang demokratis, adil dan merata. Penerapan teknologi ini juga memungkinkan untuk membantu percepatan pemerataan pembangunan di segala lini menuju Indonesia Emas 2045.

Karena sistemnya yang demokratis, Blockchain minim kemungkinannya untuk bisa diretas. Karena semua orang bisa terlibat, mencatat, memantau, dan melacak semua kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah secara transparan dalam rantai blok yang saling terhubung satu sama lain.

Selain itu sifatnya yang desentralisasi juga yang memungkinkan sulitnya teknologi ini diretas. Artinya sejak teknologi ini diluncurkan ke publik, sistem ini mandiri tidak terkontrol dari pusat baik dari entitas pemerintah maupun pihak pengembang teknologinya. Kendali secara otomatis dilimpahkan kepada semua pengguna yang terlibat dalam teknologi Blockchain ini, setiap interaksi dan transaksi menghasilkan catatan permanen dalam rantai blok baru yang semua bisa diakses dalam jaringan sistem.

Penulis: Rif Bontar (Pemerhati Sosial, Pegiat UMKM, dan Freelance Writer di JabarPublisher.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*