2024, Era Kebangkitan Rokok Kretek dengan Varian Rasa
BISNIS industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) non filter di awal tahun 2024 menampakan geliatnya. Dilihat dari munculnya produk-produk baru dari brand rokok ternama yang memfokuskan inovasinya di olahan tembakau jenis kretek sejak medio 2023 lalu. Melihat trend dan perilaku konsumen rokok kekinian, sepertinya sasaran SKT diarahkan pada trend anak muda.

Inovasi itu mengembangkan beberapa varian rasa baru yang digandrungi anak muda seperti aroma buah-buahan dan herbal khusus yang sebelumnya bisa didapatkan dari menghirup asap rokok elekrik Vape. Tentu ini menjadi strategi dagang yang menggiurkan demi mendobrak cuan di pasar konsumen rokok. Sebagaimana kita ketahui penggunaan rokok elektik Vape telah dilarang oleh WHO di sejumlah negara-negara sejak Juli tahun 2023.
Di samping itu, geliat bisnis Sigaret Kretek Tangan (SKT) terpengaruh juga oleh naiknya Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Artinya, konsumen rokok jenis filter dan mild kemungkinan akan beralih pada kretek karena persoalan harga yang terus naik.
Kretek sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia yang tak terpisahkan. Layanan streaming Netflix pada 2 November 2023 lalu menayangkan serial web original Indonesia berjudul “Gadis Kretek” yang mengangkat tema budaya kretek Indonesia dengan dibalut drama romansa kisah seorang gadis peracik saus kretek.
Serial yang disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Ifansyah produksi BASE entertainmen ini menuai pujian , digandrungi anak muda dan viral di sosial media. Dibintangi oleh Aktor ternama seperti Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, Putri Marino, Bercerita dengan latar belakang industri rokok kretek di era 60-an dan 70-an yang saat itu menjadi masa keemasan bisnis tersebut. Selain itu banyak pelajaran dan pesan moral yang bisa kita tangkap menjadi bahan renungan. Betapa dalam selinting rokok kretek saja banyak didapat nilai filosofi, kebudayaan, serta bisa kita pelajari hal-hal penting dalam berbisnis, semua dikemas apik dalam alur cerita film ini.

Sejarah juga menceritakan betapa bangsa Eropa tergiur dengan kekayaan alam indonesia , terutama pada rempah dan herbalnya yang banyak memberikan manfaat pada manusia, dan berharga mahal ketika mereka jual kembali di Eropa. Sebab itu lah mereka menjajah Nusantara yang kaya ini berabad-abad lamanya. Dan sebagian kekayaan rempah dan herbal itu terangkum dalam selinting rokok kretek.
Sayangnya, Komunitas Anti rokok acapkali melabeli rokok sebagai produk berbahaya, tetapi di satu sisi justru produk tembakau memberikan manfaat begitu banyak. Gerakan kampanye anti rokok di Indonesia terlanjur kuat sehingga menjadi stigma di masyarakat. Apakah ini murni tentang pengaruh kesehatan bagi masyarakat? Atau ini tentang persaingan bisnis dengan industri farmasi kimia? Atau memang ada intervensi dari pihak asing?
Tidak ada yang tidak bermanfaat di dunia ini, termasuk hasil olahan tembakau berupa rokok, dan di Indonesia kita sering menyebutnya sebagai kretek. Industri kretek telah menyerap lebih dari enam juta pekerja yang masih eksis untuk berjuang di industri tersebut. Banyak jiwa yang terbantu meraup penghasilan demi memenuhi hajat hidupnya .
Dari situ saja, sudah terlihat bahwa rokok memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Ini belum lagi ditambah dengan cukai serta pajak rokok yang semakin hari semakin ada manfaatnya untuk masyarakat Indonesia. Rokok memberikan kontribusi besar bagi Penerimaan Negara dari Cukai yaitu 95% sepanjang tahun 2023 saja. Melihat data sejak tahun 2016 hingga 2023 terjadi peningkatan pendapatan negara dari cukai rokok sebesar lebih dari Rp 10 Triliun setiap tahunnya dan selalu meningkat.
Bahkan dalam lima tahun terakhir, pendapatannya selalu melampaui target Anggaran Penerimaan Belanja Negara (APBN). Tak heran apabila cukai rokok selalu menjadi harapan untuk negara. Tahun 2023 Bendahara Negara telah mengantongi pendapatan dari cukai rokok sepanjang Januari-Oktober 2023 (year-to-date/ytd) senilai Rp163,2 triliun. Awal tahun ini saja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membidik pendapatan negara dari cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok senilai Rp230,4 triliun pada APBN 2024. Target tersebut sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 76/2023 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2024.
Melihat dari sisi angkanya, Sri Mulyani menurunkan target cukai rokok pada 2024 dari target awal APBN 2023 yang senilai Rp232,58 triliun atau lebih rendah Rp2,18 triliun. Betapa menggiurkannya dana cukai rokok bagi negara. Ini belum lagi ditambah dengan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). 50% dari dana tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan. Bisa kita bayangkan, produk yang konon berbahaya, keuntungannya dianggap haram, malahan banyak membantu bagi banyak orang di sektor kesehatan.
Untungnya pemerintah mengalokasikan DBH-CHT pada sektor pelayanan kesehatan. Pengelolaan puskesmas yang lebih baik, rumah sakit banyak dibangun, dan itu memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dana yang begitu besar seolah membuat kampanye anti rokok bebas melakukan hal apa pun termasuk membikin regulasi seperti PP 109/2012. Namun mereka juga lupa bahwa Ada fakta-fakta yang tidak terbantahkan seperti data-data di atas. Dari cukai rokok, DBHCHT hingga terpenuhinya kebutuhan hidup orang-orang yang berkecimpung dalam industri kretek, mulai dari petani tembakau, karyawan dan buruh pabrik, sampai pedagang rokok eceran.
Dalam hal ini justru pendapatan negara menjadi sehat. Di saat industri-industri lain tengah berjibaku menghadapi pergolakan hebat karena defisit keuangan dan sebagainya, industri hasil tembakau masih menjadi anak emas yang menguntungkan. Seharusnya negara lebih peduli lagi terhadap industri pengolahan hasil tembakau (komoditi perkebunan). Itulah rokok.. dibenci sekaligus dirindukan karena menghasilkan cuan. (rif)
