KUNINGAN – Wisata Curug Bangkong, yang terletak di Desa Kertawirama, Kec Nusaherang, Kab Kuningan, kini menjadi tempat favorit bagi para wisatawan baik lokal maupun luar kota.

Hal ini dibuktikan dari jumlah pengunjung yang terus meningkat dari hari ke hari. Di hari biasa bisa sampai 200 pengunjung sedangkan di hari libur atau akhir pekan l bisa mencapai 400 – 700 pengunjung yang datang.
Wisata Curug Bangkong buka pukul 08.00 pagi sampai pukul 16.00 sore setiap harinya. Dengan tarif masuk Rp 5.000 per orang. Di sana, para pengujung selain dimanjakan oleh pemandangan alam yang asri juga juga bisa bersantai dengan berselfi ria di dekat ari terjun yang mengalir deras. Yang lebih asyik lagi ada juga wahana papalidan yang di konsep seperti arung jeram. Wisata ini sangat bagus untuk membangkitkan adrenalin para pengunjung. Tarifnya juga super murah yakni Rp 10 ribu sekali naik.

Sementara itu, Ketua Bumdes Kertawirama, Cahya Nugraha mengatakan bahwa Curug Bangkong ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan memaksimalkan potensi masyarakat yang ada. “Seperti halnya wisata papalidan dikelola oleh karang taruna sedangkan areal parkir dikelola dengan memberdayakan masyarakat,” ungkapnya, Minggu (26/9/2020).
Ia menjelaskan, Curug Bangkong sudah ada sejak tahun 2001. Dan di tahun 2017 – 2018 terus melalukan pengembangan sampai sekarang. Tak lupa Ia pun mengajak masyarakat Kuningan dan sekitarnya untuk datang dan menikmati segala suguhan keindahan alam serta fasilitas yang ada. “Harapan saya, wisata Curug bangkong bisa terus tumbuh berkembang maju dan bisa menggali potensi potensi wisata dengan melibatkan masyarakat sekitar,” harapnya.

Ia juga menjelaskan, dari sejarah yang beredar di masyarakat, dikisahkan bahwa Curug Bangkong ditemukan oleh seorang pertapa tua bernama Abah Wiria dari Ciamis. Di air terjun itu, Wiria bertirakat sambil mengajarkan cara membuat gula kawung kepada warga sehingga menjadi mata pencaharian masyarakat.
Abah Wiria yang pada suatu saat mendapat panggilan untuk bertirakat kembali di Curug Bangkong. Maka tokoh inipun melaksanakan tirakatnya di sebuah gua yang terdapat di balik air terjun.
“Setelah berbulan-bulan Abah Wiria bertapa, masyarakat mulai menjadi gelisah karena Abah Wiria tidak kembali ke lembur. Karena merasa kehilangan tokoh yang dianggap berjasa tersebut, akhirnya masyarakat mencari Abah Wiria di Curug Bangkong, termasuk memeriksa gua dibalik air terjunnya. Namun Abah Wirya tidak ditemukan,” jelasnya.
Sehingga kata dia, banyak yang menganggap bahwa Abah Wiria telah ngahiyang (moksa) sebagai pencapaian tertinggi dari tapa bratanya. Setelah hilangnya Abah Wiria, dari arah curug tersebut kerap terdengan suara katak (bangkong).
Hal tersebut merupakan keanehan tersendiri, karena sebelumnya tidak pernah terdengan suara bangkong dari arah curug. Suara bangkong tersebut akan menghilang manakala didekati. Sehingga lambat laun, curug yang wingit tersebut dinamakan Curug Bangkong.
Salah satu peristiwa mistis yang mendongkrak pamor Curug Bangkong sebagai tempat yang wingit terjadi pada tahun 1970. Ketika itu, masyarakat melihat cahaya yang melayang-layang di sekitar areal Curug Bangkong.
Cahaya itu kemudian bergerak dan menghilang ke sebuah tempat yang menurut masyarakat adalah makam keramat Pangeran Arya Salingsingan, panglima Kerajaan Talaga. Selain itu Arya Salingsingan dipercaya sebagai tokoh syiar Islam di daerah Kuningan Barat. Makam ini yang setiap hari Selasa dan Kamis, ramai diziarahi masyarakat. (adi/red)
