BANDUNG – Walikota Bandung Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil, mengakui hingga detik ini masih terus terjadi. Bahkan sejumlah program brilliant yang diusung seolah tak menimbulkan dampak yang signifikan. Ia berpendapat, bahwa prostitusi merupakan bagian dari dinamika sosial daerah perkotaan.
Khusus untuk lokasi prostitusi di Saritem, Emil mengatakan, dinamika praktik prostitusi tak ubahnya seperti pedagang kaki lima (PKL). Pria yang akrab disapa Emil itu membantah ada upaya pembekingan dari aparat setempat untuk menghalangi penertiban.
“Enggak ada (pembekingan). Masalah itu mah dilawan sama saya juga. Iya, beneran,” ucap Emil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Selasa (16/2). Emil menilai, dalam konteks prostitusi, seharusnya tidak hanya penjaja seks yang terkena dampak, tetapi juga harus ada tindakan tegas bagi para pria hidung belang.
“Yang paling memungkinkan itu menghukum lelakinya, cuma belum ada referensi aturannya. Kalau bisa ada aturan yang menghukum lelakinya, penggunanya, konsumennya, tapi cantolan payung hukumnya apa, saya belum nemu,” tuturnya.
“Jadi ada supply ada demand, itu gagasan saja. Saya belum nemu aspek hukumnya bagaimana memenggal si demand-nya supaya si supply-nya seret,” kata Emil melanjutkan. Emil melanjutkan, dalam sejarah prostitusi di Indonesia, pemerintah sudah lama mencari upaya untuk melenyapkan bisnis birahi itu. Namun, para pelaku pun selalu mencari celah. “Kita lihat sejarah prostitusi saja, dari zaman dulu sampai sekarang negara terus saja mencari upaya, tapi namanya hal begitu, mereka (para pelaku-red) terus saja mencari celah,” tandasnya. (jay)