Meski tren sound horeg mulai mendominasi, Yeni mengapresiasi masyarakatnya yang masih teguh memegang tradisi luhur. Di Desa Babakangebang, tradisi takbir keliling di setiap blok masih berjalan rutin sebagai simbol kemenangan Idulfitri.
Bagi Yeni, ada garis pemisah antara ibadah dan ekspresi budaya. Takbir keliling dipandang sebagai upaya menjaga tradisi religi, sementara arak-arakan dengan pengeras suara dianggap sebagai bentuk kreativitas budaya kontemporer warga.
“Kami tidak bermaksud melarang kreativitas, namun lebih kepada pengaturan volume suara di ruang publik agar tidak meresahkan. Kami butuh aturan yang sinkron dari atas (pemerintah daerah) agar kebijakan di lapangan memiliki legalitas yang kuat dan tidak menimbulkan benturan sosial,” pungkasnya. (jay/rif)
