Usung Filosofi Kupat, Tradisi Bada Syawalan Ponpes Gedongan Jadi Magnet Ribuan Orang

Bada syawalan gedongan
Tim JP dan KH. Abdul Hayyi Imam disela acara Open House tradisi \"Bada Syawalan\" , Ponpes Gedongan , Kec. Pangenan, Kab. Cirebon. Sabtu (28/3/2026)
0 Komentar

CIREBON – Kehangatan silaturahmi masih terasa kental di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Gedongan, Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Meski perayaan Idulfitri telah berlalu sepekan, masyarakat di lingkungan pesantren tua ini justru baru memasuki puncak perayaan yang dikenal sebagai Bada Syawalan atau Lebaran Kupat.

Tradisi turun-temurun yang tetap terjaga keasliannya ini menjadi magnet bagi ribuan masyarakat. Berbeda dengan kebiasaan umum yang menggelar open house pada 1 Syawal, keluarga besar Ponpes Gedongan memilih hari ketujuh sebagai momentum utama mempererat silaturahmi dan saling memaafkan.

Salah satu pengasuh Ponpes Gedongan, KH. Abdul Hayyi Imam, menegaskan bahwa Bada Syawalan bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum sakral yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Baca Juga:Resmi Berlaku Hari Ini! Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses MedsosRSUD Waled Naik Kelas: Siap Jadi Episentrum Layanan Jantung di Cirebon Timur Mulai Juni 2026

“Bada Syawalan adalah ruang bagi kami untuk kembali merajut tali yang sempat renggang. Ini tradisi khas Ponpes Gedongan, di mana kami mengundang santri, alumni, wali santri, hingga masyarakat umum untuk bersatu dalam khidmat halalbihalal,” ujar Kyai Hayyi saat dikunjungi oleh Tim JP, Sabtu (28/3/2026).

Filosofi ‘Aku Leupat’ di Balik Ketupat

Keunikan utama Bada Syawalan terletak pada sajian khasnya, yakni ketupat atau kupat. Di balik anyaman janur tersebut, tersimpan makna filosofis yang mendalam.

Menurut Kyai Hayyi, kupat berasal dari ungkapan “Aku Leupat”, yang berarti pengakuan atas kesalahan kepada sesama maupun kepada Sang Pencipta.

Setelah menjalani puasa Ramadan dan menyempurnakannya dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, manusia dianggap kembali pada kondisi fitrah.

“Kupat itu simbol pengakuan diri. Setelah kita membersihkan diri dengan puasa, inilah saatnya mengakui kesalahan. Dari situ lahir keikhlasan untuk saling memaafkan,” jelasnya.

Tiga Pilar Silaturahmi: Dari Keluarga hingga Kemanusiaan

Lebih jauh, Kyai Hayyi menguraikan bahwa tradisi Lebaran Kupat mengandung tiga dimensi silaturahmi yang sangat mendalam:

1. Silatu rahim: hubungan antar keluarga sedarah

2. Silatu rahmi: persaudaraan karena ikatan keimanan

3. Silatu Arham: persaudaraan universal atas dasar kemanusiaan

Menurutnya, tradisi ini mengajarkan bahwa persaudaraan tidak berhenti pada lingkup keluarga atau agama, melainkan meluas hingga nilai kemanusiaan yang lebih luas.

0 Komentar