“Berbeda dengan festival serupa di daerah lain seperti Bali yang diapresiasi sebagai potensi pariwisata dan berdampak positif bagi ekonomi lokal, festival Ogo-ogo di Cirebon Timur tidak memberi nilai tambah selain sampah dan kebisingan yang mengganggu lingkungan sekitar. Para pedagang lokal justru tetap sepi setelah festival usai,” ungkap salah satu Pedagang menyikapi tradisi yang menjamur ini.
Fenomena ini menjadi cermin dilema masyarakat antara pelestarian tradisi dan realitas ekonomi yang kian menekan. Para tokoh masyarakat dan dinas terkait diminta untuk mengevaluasi dan merumuskan kebijakan yang dapat menyeimbangkan antara budaya dan kesejahteraan warga. (jay/rif)
