Ratusan Juta ‘Terbakar’ dalam Semalam, Festival Ogo-Ogo Tuai Kritik

Arak-arakan lebaran
Tradisi karnaval arak-arakan menjadi tradisi khusus masyarakat Cirebon timur saat merayakan Hari Raya Idulfitri
0 Komentar

CIREBON TIMUR — Festival Ogo-ogo yang digelar rutin setelah Lebaran di wilayah Cirebon Timur menjadi fenomena unik sekaligus kontroversial. Acara arak-arakan patung raksasa dengan sound system berdaya tinggi ini dikenal mampu “membakar” ratusan juta rupiah dalam kurun waktu singkat, menimbulkan beban ekonomi berat bagi sebagian besar warga desa.

Festival yang digelar malam hari ini menampilkan parade patung “ogo-ogo” berkeliling desa dengan iringan suara musik yang sangat keras. Sumber dana utama berasal dari penjualan kaos seragam bertema kelompok dusun dan iuran warga secara paksa tanpa musyawarah. Hasilnya, banyak masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah dan lanjut usia, merasakan tekanan finansial pasca momen Lebaran yang seharusnya membawa berkah dan keceriaan.

“Uang yang habis dalam dua jam itu bisa jadi tabungan setahun hasil kerja keras warga di perantauan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga:Kurangi Beban Lalu Lintas Selama Libur Idulfitri, Sekitar 1.120 Sopir Angkot di Cibadak Sukabumi DiliburkanH+2 Lebaran, Ratusan Ribu Kendaraan Padati Jalur Pantura Kota Cirebon

Ia menilai tradisi ini sudah bergeser dari semangat gotong royong menjadi beban sosial dengan “iuran wajib” yang sulit ditolak.

Upaya dialog antara pemerintah desa dan warga hingga kini belum membuahkan solusi konkret. Pemerintah desa cenderung memilih sikap pasrah dengan alasan agar acara tetap kondusif dan tidak menimbulkan konflik fisik. Sementara, kalangan muda mempertahankan festival sebagai bentuk kreativitas dan ekspresi budaya, sedangkan para orang tua dan tokoh masyarakat mengkritik acara ini sebagai pemborosan dan kebisingan tanpa manfaat ekonomi.

“Kami sebagai Pemdes tentu menampung aspirasi warga desa dari kalangan apapun, baik itu tua maupun muda, meski kedua generasi saling bertolak belakang terkait tradisi karnaval arak-arakan ini, yang penting masyarakat tetap bisa menciptakan suasana kondusif baik keamanan dan ketertibannya di suasana hari Raya ini,” Ujar salah satu Kuwu yang berada di Kecamatan Babakan saat dimintai pendapatnya oleh Jabar Publisher.

Meskipun festival budaya sering kali digadang-gadang sebagai penggerak roda ekonomi daerah, realita di lapangan terkadang menunjukkan hasil yang kontradiktif. Di Cirebon Timur, pelaksanaan festival tradisi mulai menuai kritik dari pelaku usaha kecil yang merasa tidak mendapatkan manfaat signifikan dari keramaian tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikeluhkan oleh masyarakat setempat.

0 Komentar