CIREBON – Posisi strategis Kota Cirebon sebagai gerbang utama pergerakan pemudik di jalur Pantura kembali terbukti pada momen mudik dan balik Lebaran 1447 Hijriah ini. Berdasarkan data terbaru, ratusan ribu kendaraan tercatat melintasi kota ini, menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam denyut transportasi nasional yang menghubungkan Jakarta dengan Jawa Tengah dan sekitarnya.
​Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon mencatat pergerakan massa yang masif. Jumlah total kendaraan pemudik yang melintas di wilayah hukum Kota Cirebon, baik arus dari arah Jakarta menuju Jawa maupun sebaliknya, telah mencapai angka fantastis, yakni 687.573 unit kendaraan. Lonjakan ini menegaskan Cirebon sebagai barometer kelancaran arus lalu lintas di wilayah Jawa Barat selama masa angkutan Lebaran 2026.
​Tren peningkatan volume kendaraan terlihat jelas memasuki masa pasca-Lebaran. Pada H+2 Lebaran atau Minggu (22/3/2026), pantauan di Posko Dishub Kota Cirebon yang berlokasi di Jalan Brigjend Dharsono (Bypass) menunjukkan kepadatan yang signifikan. Dalam kurun waktu 24 jam, sebanyak 45.022 kendaraan melintas, dengan rata-rata arus kendaraan mencapai 1.876 unit per jamnya.
Baca Juga:Polri Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Cetak Sejarah, Strategi Dua Tahap DisiapkanKPK Resmi Kabulkan Status Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas, Ini Alasannya
​Secara rinci, kendaraan roda dua atau sepeda motor masih mendominasi pergerakan di jalur utama ini dengan jumlah mencapai 32.725 unit. Di posisi kedua, mobil pribadi menyusul dengan total 10.764 unit. Sementara itu, untuk moda transportasi lain seperti angkutan barang dan angkutan umum, jumlahnya tercatat jauh lebih kecil, yakni angkutan barang kecil (790 unit), angkutan barang besar (152 unit), angkutan umum kecil (502 unit), serta angkutan umum besar (107 unit).
​Kepala Dishub Kota Cirebon, Andi Armawan, memaparkan perbandingan data untuk menegaskan adanya tren kenaikan ini.
​”Jika dibandingkan dengan data pada Hari Lebaran, volume kendaraan pada H+2 ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada Hari Lebaran, jumlah kendaraan yang tercatat sebanyak 40.532 unit. Sedangkan pada H+2, angkanya melesat menjadi 45.022 unit. Artinya, terdapat kenaikan volume sekitar 4.490 kendaraan, atau sekitar 11,08 persen,” terang Andi Armawan.
​Menurut Andi, peningkatan volume pada H+2 ini mencerminkan dinamika pergerakan masyarakat pasca-salat Idulfitri. Pergerakan ini diduga kuat berasal dari pemudik yang melakukan perjalanan untuk keperluan silaturahmi lanjutan antarwilayah, sekaligus menandai mulainya pergerakan awal arus balik menuju daerah asal bagi sebagian pemudik yang memiliki waktu libur lebih singkat.
