Hasil sidak mengungkap kondisi dapur yang sangat memprihatinkan. Brigjen Dony mendapati dapur dalam keadaan kotor, bau, dan jorok.
“Lantai dapur mengelupas, dinding-dindingnya kotor, keropos, dan berjamur,” ungkapnya. Ruang pemorsian juga dinilai tidak layak karena tidak ber-AC, serta tidak ada ruang istirahat dan loker yang memadai.
Fasilitas pengolahan limbah pun menjadi sorotan tajam. IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang ada sangat tidak memadai, hanya berupa buis beton bersambung yang isinya hampir meluap dan ditutup tripleks tipis.
Baca Juga:Strategi Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan Antisipasi Kepadatan Arus Mudik 2026Polres Cirebon Kota Ungkap Kasus Pembunuhan di Jalan Dukuh Semar, Dua Pelaku Ternyata Pasangan Suami Istri.
Ironisnya, untuk menutupi kekurangan fasilitas itu, para kepala SPPG kembali menggunakan uang pribadi. Rizal mengaku membiayai sendiri pembuatan IPAL karena yayasan tidak mau mengeluarkan dana perbaikan.
Brigjen Dony menegaskan bahwa dapur tersebut tidak layak beroperasi. Meskipun pemilik yayasan siap mengikuti arahan perbaikan, BGN memastikan dapur akan dihentikan operasinya untuk selama-lamanya. (red)
