Soal inflasi yang tercatat 4,76 persen (year-on-year) pada Februari, Menkeu menjelaskan bahwa angka ini dipengaruhi oleh faktor temporer, yaitu efek basis rendah (low base effect) dari diskon listrik 50 persen yang diberikan pemerintah pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menambahkan bahwa dari angka inflasi tahunan tersebut, 2,17 persen di antaranya disumbang oleh komoditas tarif listrik. Tanpa faktor diskon listrik tahun lalu, inflasi Februari 2026 diperkirakan hanya berada di kisaran 2,54-2,59 persen, yang masih di bawah target sasaran.
Sinergi Fiskal-Moneter Berbuah Manis
Koordinasi yang erat antara pemerintah dan Bank Indonesia juga menuai hasil positif. Penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun terbukti efektif menjaga likuiditas perbankan. Alhasil, suku bunga kredit berhasil ditekan turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026, sebuah angka yang kondusif untuk mendorong ekspansi usaha.
Kinerja APBN: Pendapatan Tumbuh, Belanja Diakselerasi
Baca Juga:PSSI Masukkan Satu Nama Baru dalam Daftar Pemain Naturalisasi Timnas IndonesiaPemprov Jabar Kucurkan Insentif Aparatur Desa, 5.311 Desa Wajib Tingkatkan Pelayanan
Melihat lebih dalam ke dalam kinerja APBN hingga akhir Februari 2026, terlihat kombinasi yang sehat antara pertumbuhan pendapatan dan akselerasi belanja.
Pendapatan negara tercatat sebesar Rp358 triliun, atau 11,4 persen dari target, dengan pertumbuhan 12,8 persen (yoy). Penerimaan pajak menjadi bintang utama dengan pertumbuhan sangat kuat mencapai 30,4 persen, didorong oleh pemulihan permintaan domestik dan optimalisasi sistem Coretax.
Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun (12,8 persen dari pagu), melonjak 41,9 persen dibandingkan tahun lalu. Akselerasi belanja di awal tahun ini merupakan strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih merata sejak dini. Lonjakan belanja modal hingga 400,3 persen dan belanja barang yang naik 269,4 persen menjadi pendorong utamanya, termasuk untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan kombinasi ini, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB. Angka ini dinilai masih sangat terkendali dan merupakan bagian dari strategi front-loaded spending untuk menggerakkan roda ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian.
“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (red)
